Manfaat dari Hasil Kekepoan Newbie Mommy terhadap #KibulanSusu



Disclaimer : bagi yang kejang-kejang dengan tulisan saya tidak perlu maki-maki di kolom komentar. Maki-maki di PM lebih saya hargai.

Pagi siang malam tidak menyurutkan hati saya untuk mencari tahu #kibulansusu yang kemarin habis diobrolin via whatsapp dengan mbak N yang sudah vegetarian. Sebelumnya saya galau dikarenakan ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya, tapi belum berani cerita kepada pak suami. Akhirnya saya memutuskan untuk bercerita dengan mbak N terlebih dahulu. Eh terus sama mbak N dikasih tau hesteg #kibulansusu dan pakar food combining yang menelurkan (hmm melahirkan juga boleh deh 😀) hesteg #kibulansusu.

Sejak awal memang saya mikir sih ini pasti ulah kapitalis mamarika di tahun-tahun sebelum saya lahir. Terus diadopsi oleh pemerintah masa itu dengan slogan 5 sempurna (saya tidak mau sebut jaman presiden siapa, nanti takut tertjidoek 👀). Searching menggunakan hesteg #kibulansusu membuat saya menemukan bahwa kampanye memngkonsumsi susu sapi itu ulah kapitalis mamarika.

Cerita singkatnya sih gini, waktu tahun 1970an disana ada kelebihan produksi susu sapi , terus kaum kapitalis berunding sama pemerintah utk mengkampanyekan minum susu sapi dan kampanye itu didukung dokter serta para ahli. Disinilah awal anggapan masyarakat bahwa meminum susu sapi itu baik untuk kesehatan. Terus negara kita mengimpor hasil kampanye tersebut, merasuki pemikiran-pemikiran masyarakat kita (kayak hantu aja merasuki) termasuk ibu saya tercinta. Ya gimana enggak inget terus tuh yang 5 sempurna soalnya di propaganda, coba deh tiap hari denger lagu mars salah satu partai di TV, pasti lama-lama inget nada dan liriknya kan kita hapal tanpa kita sadari 😜.

Sebagai orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, nah saya juga sebagai orang tua yang berprofesi IRT (bukan IGD ya walau sama-sama 24jam 😁) harus memilih pilihan terbaik untuk anak saya. Setelah curhat dengan mbak N, saya ngobrol dengan suami mengenai besok pilihan anak kita adalah tidak minum susu sapi (backsound jreng jreng jreng kayak di film horor yang hantunya mau keluar itu 👻). Pak suami malah cerita kalau dulu dia jarang sekali minum susu tapi badannya juga tetep tumbuh, tulang & giginya kuat bahkan giginya gak ada yang bolong kayak saya, dan pak suami setuju anak kami tidak minum susu sapi. Saya bahagia sekali sampe kepengen guling-guling di lantai ketika pak suami setuju, tapi saya enggak jadi guling-guling di lantai soalnya malu sama pak suami.

Dasar emak-emak yg kebanyakan pertimbangan, saya galau juga nih kalo ditanyain sama keluarga kok anaknya ga dikasih minum susu sapi gimana coba. Pak suami bilang,”gpp lah ga usah didengerin, bilang aja kan uangnya buat beli susu bisa buat beli sayuran dan buah-buahan yang bisa memenuhi kebutuhan kalsium si bayi”. Weitss aku padamu pak suami uye uye 😆 (sambil cari referensi biar kalo ditanya sodara biar bisa jawab). Lagian dipikir bener juga sih, susu sapi yang dikemas dalam bentuk susu formula itu mehooong book untuk kantong saya 😑. Selain itu informasi yang saya tau bahwa dalam darah manusia kalsiumnya berkisar 9-10mg, terus sisa-sisa kalsium yang tidak dapat diserap tubuh akan dikeluarkan via ginjal melalui urine. So, buat saya kok kayaknya percuma minum susu berkalsium tinggi kalo ternyata terbuang.

Saya juga membandingkan daya tahan tubuh saya dengan pak suami. Saya dari kecil dibiasakan minum susu merk D***** oleh Ibu, nah pak suami jarang banget minum susu. Ketika hujan turun, saya kehujanan aja cepet banget pileknya, sementara pak suami enggak pilek. Kalo dalam bahasa jawanya saya ini “ringkih”.

Akhirnya pagi ini saya temukan referensi yang diambil dari buku “The Miracle of Enzyme” karya Dr. Hiromi Sinya yang ditulis secara singkat oleh Fitri Yani. Dijelaskan oleh Sinya bahwa tidak ada makanan yang sulit dicerna daripada susu sapi. Nah bisa dong ngebayangin gimana kerja keras pencernaan ketika seorang batita deh minum susu sapi. Terus Kasein (protein yang terdapat di dalam susu sapi) bakalan menggumpal jadi satu pas masuk lambung so susah dicerna. Aduh saya serem membayangkan kerja kerasnya lambung untuk mencerna susu sapi.
 

Selanjutnya, komponen susu yang dijual di toko itu udah dihomogenisasi dan menghasilkan radikal bebas. Susu yang udah dipasterisasi juga ternyata tidak mengandung enzim-enzim yang berguna, lemak susu teroksidasi dan proteinnya berubah karena suhu tinggi. Susu yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus.


Jika wanita hamil minum susu sapi, anak-anaknya cenderung lebih mudah terjangkit dermatitis atopik(penyakit radang kulit yang parah).Ya beruntung saya tidak mengkonsumsi rutin susu untuk ibu hamil.Terus yang terakhir menurut Sinya adalah minum susu terlalu banyak justru menyebabkan osteporosis. Kenapa Sinya berani bilang begitu ternyata karena di empat negara terbesar penghasil sekaligus pengkonsumsi susu sapi banyak ditemukan kasus retak pinggul dan osteoporosis.
Terus saya lanjutin ngepoin twitternya bang Erikar Lebang tentang #kibulansusu. Ada salah satu tweetnya yang mengatakan bahwa enzim laktase yang hilang dr tubuh pada usia 2-3 tahun itu sebenarnya indikasi bahwa setelah usia tersebut manusia tidak membutuhkan susu. Nah ini blognya bang Erikar kalo mau tau lebih lengkap tentang kibulan susu www.erikar.com



Setelah baca-baca mengenai #kibulansusu saya mempersiapkan jawaban yang nanti bakal saya ucapkan ketika ditanyain “ kenapa anaknya ga dikasih susu sapi?”.

Okedeh sepertinya cukup sekian ocehan-ocehan saya yang merupakan hasil kekepoan saya sampai hari ini dan mumpung si bayi masih tertidur maka saya coba untuk menuliskannya disini. Mengedukasi memang tidak mudah. Sependek pemahaman saya bahwa susu sapi paling baik untuk anak sapi, bukan untuk anak saya. Sekali lagi saya bukan ahli gizi, bukan dokter, hanya IRT yang punya bayi dan punya 2 kucing (bernama shiro&snowy), jadi saya mohon maaf apabila tulisan saya memiliki banyak kekurangan dan membuat kejang-kejang sebagian orang 😌.
Terimakasih sudah mampir di tulisan saya


Regards,
Niken Nawang Sari

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Posting Komentar

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga