Tampilkan postingan dengan label Transportasi. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Pertama Naik MRT Jakarta

1 komentar

Pengalaman pertama menggunakan MRT Jakarta
Pengalaman pertama naik MRT Jakarta. Dokpri


MRT (Mass Rapid Trans) adalah sistem transportasi massal yang menggunakan rel atau lebih dikenal dengan kereta bawah tanah yang beroperasi di Jakarta. Pengalaman pertama naik MRT Jakarta aku dapatkan saat mengunjungi ibu kota pada bulan Juni 2022. Meskipun kasus covid sudah mulai landai, namun aku tetap menerapkan protokol kesehatan saat menggunakan transportasi umum seperti saat naik MRT.

MRT Jakarta menghubungkan stasiun Lebak Bulus dengan stasiun bundaran HI yang melewati beberapa stasiun lainnya. Sampai saat ini jalur MRT Jakarta yang sudah beroperasi adalah sepanjang 15,7km.

Peta Stasiun MRT Jakarta
Dokumen : website MRT Jakarta


Rute MRT Jakarta melewati beberapa stasiun diantaranya adalah sebagai berikut ini :

  1. Stasiun Lebak Bulus
  2. Stasiun Fatmawati
  3. stasiun Cipete Raya
  4. Stasiun Haji Nawi
  5. Stasiun Blok A
  6. Stasiun blok M 
  7. Stasiun ASEAN
  8. Stasiun Senayan
  9. Stasiun Istora Mandiri
  10. Stasiun Bendungan Hilir
  11. Stasiun Astra
  12. stasiun Dukuh Atas BNI
  13. Stasiun Bundaran HI

Sementara itu untuk jadwal operasional MRT, terdapat perbedaaan jam buka pada hari kerja dan akhir pekan. Pada hari kerja, MRT mulai beroperasi pada pukul 05.00 sampai pukul 23.00. Sedangkan untuk akhir pekan (weekend), jam operasional MRT dimulai pada pukul 06.00 sampai 23.00. Pada jam-jam sibuk jarak waktu keberangkatan MRT setiap 5 menit sekali, tetapi diluar jam sibuk MRT akan berangkat setiap 10 menit sekali.

Pengalaman Pertama Naik MRT Jakarta

Sebagian stasiun MRT Jakarta letaknya dibawah tanah
Mencoba naik MRT untuk pertama kalinya.
Dokumen pribadi

Sebelum menggunakan MRT Jakarta, aku menyempatkan diri untuk browsing dulu beberapa hal penting tentang MRT, salah satunya adalah panduan menggunakan MRT Jakarta supaya perjalananku lancar.  Setelah dirasa cukup paham dengan panduan tersebut, aku memutuskan untuk pakai aplikasi MRT Jakarta saja karena terasa lebih praktis daripada pakai e-money atau kartu lainnya. Untuk cara membeli tiket MRT Jakarta ada dibawah ini ya.

Cara Membeli Tiket MRT Jakarta

Tangkapan layar aplikasi MRT Jakarta


  1. Download Aplikasi MRT J di Playstore
  2. Daftar/registrasi akun MRT J terlebih dahulu
  3. Log in akun MRT J
  4. Pilih Tiket
  5. Klik Beli Tiket, isi stasiun keberangkatan dan tujuan. Jika akan bepergian sendiri bisa memilih tiket satuan, dan apabila ingin menggunakan MRT bersama keluarga bisa memilih tiket grup maksimal 5 orang. Untuk tiket MRT yang akan dibeli pun ada pilihan sekali jalan atau pulang pergi.
  6. Bayar tiket menggunakan beberapa metode pembayaran yang tersedia. Nah disini aku pakai metode pembayaran LinkAja karena merasa lebih mudah dan praktis.
  7. Konfirmasi pembayaran dan akan mendapatkan QR Code. Nah QR Code ini tuh digunakan untuk masuk dan keluar gerbang stasiun MRT
Tarif MRT Jakarta tahun 2022.


Cara Naik MRT untuk Pemula

Tiket MRT sudah ditangan, akupun siap untuk berangkat menuju stasiun tujuan supaya tidak telat untuk mengikuti sebuah acara. Dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan KRL dari stasiun Cikarang, aku akhirnya sampai di stasiun Sudirman. Nah anak-anak Citayam Fashion Week juga pasti pada turun disini, jadi tidak heran kalau mulai dari underpass yang menghubungkan stasiun Sudirman sampai stasiun Dukuh Atas BNI ini sering ramai. 

Hanya dengan berjalan kaki lima menit dari stasiun Sudirman, aku sampai di depan stasiun Dukuh Atas BNI. Terlihat beberapa petugas di depan stasiun yang siap membantu calon pengguna MRT sekaligus mengingatkan untuk scan QR Code peduli lindungi. Oh iya rute yang akan aku tempuh adalah Stasiun Dukuh Atas BNI sampai stasiun Senayan, harga tiketnya hanya Rp 5000 saja.

Harga tiket MRT dari Dukuh Atas ke Senayan


Memasuki stasiun yang ada dibawah tanah, sinyal di smartphoneku mulai hilang. Tapi tenang saja karena masih ada wifi stasiun yang bisa digunakan hanya untuk membuka aplikasi MRT J. 

Gate MRT di stasiun Dukuh Atas BNI. Dokpri


Nah sebelum naik MRT, kita harus memperhatikan beberapa gate untuk scan tiket karena gate yang bisa digunakan untuk scan QR Code dan tap e money berbeda. Aku sempat agak kebingungan untuk scan tiket, beruntung sekali ada petugas yang siap membantu. Jadi gate untuk scan tiket MRT yang berupa QR Code itu terpisah dengan gate yang digunakan untuk tap e-money atau kartu MRT.

Setelah memasuki peron, petugas akan membantu mengatur flow penumpang supaya tidak berebut saat akan masuk MRT. Penumpang yang turun akan diprioritaskan terlebih dahulu daripada yang akan naik. 

Suasana di dalam MRT pagi itu masih sepi dan terasa sangat dingin, hanya beberapa petugas keamanan terlihat berkeliling gerbong sambil mengingatkan penumpang untuk tidak berbicara selama di dalam kereta. Dari stasiun Dukuh Atas BNI ke stasiun Senayan terasa sangat singkat, hanya membutuhkan waktu sekitar 8 menit saja. 

Kesimpulan



Menggunakan MRT Jakarta bisa menjadi pilihan yang tepat saat bepergian ke ibu kota karena dapat menghemat waktu, terhindar dari macet dan nyaman karena tidak bising seperti di kereta api. Selain itu harga tiket MRT juga sangat terjangkau dan sudah bisa dibeli menggunakan aplikasi MRT J yang lebih praktis. 

Dari segi pelayanan, petugas MRT sigap membantu pengguna MRT yang masih pemula seperti aku. Jadi nggak khawatir naik MRT lagi. Stasiun MRT juga sudah dilengkapi dengan ruang tunggu yang nyaman, tempat ibadah dan toilet yang bersih.  

Jadi apakah kalian tertarik mencoba naik MRT Jakarta?

Stasiun MRT Dukuh Atas BNI

Cara Mudah Beli Tiket KRL pakai Gojek

1 komentar

 

cara beli tiket krl pakai gojek terasa lebih mudah dan praktis
foto : jawapos.com

Cara beli tiket KRL pakai Gojek terasa lebih mudah dan praktis. Cara membeli tiket KRL melalui fitur Go Transit baru saja resmi dirilis di akhir Juni 2022. Dengan adanya fitur Go Transit, pengguna KRL Commuter line dapat membeli tiket dengan lebih mudah dan praktis tanpa menggunakan kartu. 

Walaupun aku bukan pengguna KRL setiap hari, kemudahan ini tentu saja patut diapresiasi. Beberapa waktu yang lalu aku membeli tiket KRL menggunakan fitur Go Transit dari Gojek. Didorong oleh rasa penasaran untuk mencoba fitur Go Transit, akhirnya jadilah pengalaman seperti yang aku tuliskan disini.

Sebenarnya di rumah aku punya beberapa kartu e-money, tetapi karena menggunakan kartu terasa ribet jadi aku memilih beli tiket KRL pakai Go Transit. Apalagi jarak rumah ke stasiun terdekat sekitar 17km, kalau belum pegang tiket KRL dari rumah khawatir takut kehabisan. 

Ada berbagai cara beli tiket KRL Jabodetabek 2022, tapi menurutku yang paling mudah dan praktis menggunakan Go Transit. Jika pada kartu e-money hanya dapat digunakan oleh satu penumpang dengan minimal saldo sebesar 5000 rupiah, nah pada layanan Go Transit ini sangat berbeda. 

Dalam satu akun gojek, kita bisa membeli tiket KRL untuk beberapa orang sekaligus alias rombongan. Menurut berita yang ditulis oleh cerdas belanja, pembelian tiket KRL melalui fitur Go Transit memungkinkan pengguna untuk membeli sampai 10 tiket.

 

Cara Beli Tiket KRL pakai Gojek

Masuk ke akun Gojek 

halaman utama aplikasi gojek


Pilih fitur Go Transit dan klik beli tiket KRL/ Commuter Line

halaman fitur go transit pada aplikasi gojek


Ketik Stasiun Keberangkatan dan Tujuan, kemudian bayar menggunakan Gopay atau LinkAja. Karena aku tidak punya saldo Gopay, jadi kemarin aku bayarnya pakai LinkAja. 

pembayaran tiket KRL bisa menggunakan Gopay dan LinkAja


Pengguna akan mendapatkan QR Code pada halaman fitur Go Transit. Nah QR Code ini nanti di scan di pintu masuk dan keluar stasiun. Nah kalau mau nambah beli tiket KRL tinggal klik Buy More dan ulangi step-stepnya dari awal.

tiket KRL yang sudah dibeli akan terlihat pada fitur Go Transit


 

Kelebihan Beli Tiket KRL pakai Gojek

Lebih Mudah dan Praktis

Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, membeli tiket KRL pakai gojek ini lebih praktis karena tidak perlu membawa berbagai macam kartu. Selain itu, pembayaran tiket KRL lewat aplikasi Gojek bisa menggunakan Gopay dan LinkAja. Nah aku pilih menggunakan LinkAja karena biaya top up LinkAja  dari bank plat merah masih gratis. Jadi lumayan hemat 1000 rupiah daripada top up Gopay.

Bisa Beli Untuk Rombongan

Bepergian menggunakan KRL bersama -sama akan terasa lebih praktis kalau tiketnya dipegang oleh satu orang. Nah sekarang beli tiket KRL untuk rombongan juga sudah bisa menggunakan Gojek. Misalnya kalau dari Cikarang mau ke Citayam Fashion Week bareng-bareng, tiap orang tidak perlu pegang kartu e-money lagi. Tetapi cukup dikoordinasi oleh satu orang, yang bisa membeli beberapa tiket KRL sekaligus lewat aplikasi Gojek.  

Harga Tiket KRL Langsung Terlihat

Untuk membeli tiket KRL pakai Gojek setauku sampai sekarang tidak ada syarat minimal saldo, karena setiap mengetik stasiun keberangkatan dan tujuan akan langsung keluar tarifnya. Kemarin aku berangkat dari stasiun Cikarang ke stasiun Sudirman harga tiketnya hanya sebesar Rp 5000 per orang. Kemudian tiket KRL ini berlaku selama satu hari, tidak ada batasan harus naik KRL yang jam sekian pokoknya asal naik KRL di hari yang sama dengan kita membeli tiket. Tetapi berangkatnya harus sesuai dengan stasiun yang sudah tercantum pada tiket KRL ya.

Kekurangan Beli Tiket KRL Pakai Gojek

Kekurangan membeli tiket KRL pakai gojek untuk rombongan diperlukan ketelitian dan kesabaran ekstra. Saat membeli tiket untuk rombongan tuh kan belinya harus satu per satu, tidak bisa langsung beli 3 sekaligus seperti membeli tiket MRT. Kemudian saat akan masuk ke stasiun keberangkatan dan keluar di stasiun tujuan juga scan tiketnya satu per satu.  

 

Membeli Tiket KRL Jadi Mudah dan Praktis dengan Go Transit dari Gojek

suasana di peron stasiun Cikarang
suasana di stasiun Cikarang, terlihat beberapa gate untuk scan QR Code KRL.
dokumen pribadi


Beli tiket KRL kini semakin mudah dengan adanya fitur Go Transit pada aplikasi Gojek. Terbosan ini menurutku patut diapresiasi karena sangat membantu untuk yang ingin bepergian naik KRL dengan lebih praktis. Untuk metode pembayaran  tiket KRL, Gojek memberikan dua pilihan yaitu melalui Gopay dan LinkAja. Kemudian untuk tarif tiket KRL dihitung dari tempat asal dan tujuan, jadi tidak memotong saldo dengan tarif terjauh.

Selain itu, pengguna KRL juga bisa membeli tiket KRL untuk rombongan  dalam satu akun gojek. Jadi tidak perlu repot menyiapkan kartu satu per satu saat akan naik KRL. Namun sebaiknya teliti saat membeli tiket rombongan karena tiketnya "beneran” dibeli satu per satu, tidak bisa beberapa sekaligus seperti membeli tiket MRT.

Apakah teman-teman sudah mencoba beli tiket KRL pakai aplikasi Gojek? Aku tunggu ceritanya di kolom komentar ya.

Pengalaman Booking Tiket Menggunakan Pegi Pegi

Tidak ada komentar
Dok : Pixabay


Yeaaay sebentar lagi Kanjeng Papi mau pulang ke Jogja untuk wisuda, sebuah kabar bahagia yang harus didukung oleh ketersediaan transportasi tentunya. Ya bisa dibayangkan kalau tidak dapat tiket untuk pulang ke Jogja kan sayang banget, soalnya udah bayar lunas buat ikut prosesi yang namanya wisuda.

Daaan peraturan kampusnya itu ikut wisuda atau tidak ikut wisuda bayarnya tetap sama, jadi akhirnya Kanjeng Papi memutuskan untuk wisuda dong.πŸ˜ͺ

Dibalik Kanjeng Papi yang ribet ngurusin mau wisuda, ada seorang istri yang gemar ngintip isi ATM. Iya dong kan aku harus tau posisi keuangan keluarga (kok istilah yang dipakai kayak jaman kuliah ekonomi ya 😝), sampai akhirnya harus menentukan pilihan transportasi untuk Kanjeng Papi pulang ke Jogja.

Berhubung Kanjeng Papi ada di planet Cikarang, untuk menentukan pilihan transportasinya juga harus memperhitungan waktu. Apalagi Kanjeng Papi kan sekarang kerja tetap (bikin pesawatnya Decepticon kali πŸ€£) bukan freelance lagi, jadi nggak bisa fleksibel kalau mau keluar kota dengan alat transportasi massal. Daerah industri seperti Cikarang tentunya memiliki jam-jam sibuk dengan kendaraan padat merayap sehingga waktu tempuh kendaraan akan meleset dari perkiraan awal.


Bulan lalu waktu pulang ke Jogja tuh Kanjeng Papi sudah mencoba bus AKAP (baik yang booking melalui Traveloka atau yang langsung lewat agen), nah sekarang saatnya berhemat  dengan pilihan moda transportasi lainnya. Berhematnya nggak cuma soal uang lho, tapi juga waktu tempuh soalnya kan ini keburu mau wisuda. πŸ™„

Akhirnya pilihan moda transportasi itu jatuh kepada kereta api dan pesawat yang dibooking melalui Pegi Pegi. Jadi Kanjeng Papi pulang ke Jogjanya naik kereta api, sedangkan kembali ke Cikarang setelah wisuda menggunakan pesawat.


Kemudahan yang Diberikan Pegi Pegi


Booking Tiket Kereta Api


Kereta api.
Dok : Pegi Pegi

Untuk mendapatkan tiket kereta api yang bersubsidi, aku harus rajin intip ke aplikasi Pegi pegi dan bookingnya dari jauh-jauh hari. Aku booking tiket kereta api Bengawan, dengan keberangkatan tanggal 27 Maret dari Pasar Senen (PSE) ke Lempuyangan (LPN) itu sejak akhir bulan Februari. Ya takutnya keburu abis kalau nggak cepet-cepet dibooking kan, apalagi harga tiketnya murah meriah dan waktu tempuhnya juga lebih cepat daripada bus.

Loh kenapa naiknya dari PSE?
Jawabannya karena kalau dari Bekasi itu tinggal kereta yang non subsisi, harganya lumayan menguras isi kantong dan jam keberangkatannya juga tidak pas dengan jadwal Kanjeng Papi. Makannya akhirnya aku memilihkan KA Bengawan kelas ekonomi dengan harga Rp 74.000 plus Convenience Fee Pegi Pegi sebesar 7500.


Pengisian Data Penumpang KA

Booking tiket kereta api di aplikasi Pegipegi itu hampir mirip seperti di KAI Access kok. Jadi setelah isi data penumpang, kita akan diarahkan untuk memilih seat. Setelah itu baru dilakukan pembayaran.

Booking Tiket Pesawat 

Maskapai Citilink.
Dok : Cermati.com

Tiket pesawat di bulan Maret ini memang agak miring, soalnya dunia penerbangan lagi agak sepi karena virus Corona. Kalau tidak karena HARUS wisuda, mungkin aku akan meminta Kanjeng Papi untuk menunda bepergian.


Aku berhasil mendapatkan tiket pesawat dari maskapai Citilink untuk tanggal 29 Maret sebesar 400-ribuan (sudah termasuk asuransi). Aku pilih jam keberangkatan yang agak sore supaya tidak terburu-buru. Padahal sebelumnya aku cek Citilink selalu menyediakan keberangkatan paling pagi yaitu pukul 06.00 dan aku tidak yakin Kanjeng Papi bisa bangun sepagi itu di hari libur. Jadi sebelum dapat tiket yang agak sorean ini,  aku sering cek aplikasi Pegi Pegi supaya dapat jam keberangkatan yang sesuai dengan harga terjangkau.

Beberapa hal aku pertimbangkan ketika memilih pesawat, salah satunya adalah maskapai Citilink masih memberikan bagasi gratis sebanyak 20kg. Selain itu Citilink masih beroperasi di bandara Adi Sutjipto (JOG), yang dekat dari rumah orang tua kami. Jadi tidak perlu spare time lebih banyak untuk perjalanan ke bandara.

Pembayaran Tiket Melalui Pegi Pegi


Oh iya kedua tiket tadi aku bayar menggunakan m-banking BRI. Cara bayarnya gampang banget kok karena instruksinya sangat jelas dari Pegi pegi. Metode yang digunakan adalah transfer, jadi kita akan diberi no.rekening BRI milik Pegi Pegi yang bisa dicopy kemudian paste ke dalam m-banking. Copy-paste ini buatku sangat membantu soalnya aku orangnya kurang teliti jika harus memasukkan nomer rekening satu persatu. Apalagi rekening BRI kan panjang tuh, kalau harus nulis ulang agak merepotkan. Iya kan? Pengguna BRI mana suaranya? 😁

Oh iya kita dikasih waktu sekitar satu jam untuk melakukan pembayaran tiket. Biar nggak lupa kalau ada pesanan yang belum dibayar, Pegi Pegi juga mengingatkan kita melalui email petunjuk pembayaran tiket.

Hal yang harus diperhatikan selanjutnya adalah tiga digit terakhir nominal pembayaran. Iya 3 digit terakhir harus sama dengan yang diberikan oleh Pegi pegi, supaya dari pihak Pegi pegi lebih mudah memproses pembayaran tiket kita.

Setelah pembayaran berhasil,  Pegi Pegi  memberikan email yang berisi e-ticket dan invoice. Nah untuk pesawat, selain tiket dan invoice tuh ada email yang berisi asuransi yang sudah dipilihkan untuk penumpang.




Kesimpulannya adalah Pegi Pegi sangat membantuku untuk mendapatkan tiket kereta api dan pesawat dengan harga terjangkau, plus pembayarannya juga gampang banget.

Kalau kamu punya cerita apa dengan Pegi Pegi nih gaes?

Update : Tiket yang dipesan dari Pegi Pegi akhirnya direfund semua karena wisudanya Kanjeng Papi ditunda. Penundaan ini berkaitan dengan keadaan pandemi virus covid-19. Untuk refund tiket KA harus melalui KAK Access, sedangkan tiket pesawat bisa melalui Pegi Pegi. Aku tidak memilih reschedule karena belum tau keadaan bulan depan seperti apa.

Note : Tulisan ini bukan sponsored post dari Pegi Pegi. Tulisan ini murni pengalamanku dan ditulis untuk sekedar berbagi pengalaman aja.

Pengalaman Menggunakan E-Tiket Bus dari Traveloka

Tidak ada komentar



Bus KYM Trans yang ditumpangi oleh Kanjeng Papi.
Dok : Kanjeng Papi

Jogja, 15 Februari 2020


Teriknya sinar matahari tidak mematahkan semangat kami untuk segera pulang ke rumah. Soalnya 1 jam lagi Kanjeng Papi harus sampai di agen bus KYM terminal Giwangan.

Sejujurnya aku agak khawatir kalau Kanjeng Papi telat sampai terminal Giwangan karena ini pertama kalinya menggunakan e-tiket dari Traveloka.


Pesan Tiket Bus Pakai Traveloka


Aku bisa bilang pesen tiket bus pakai Traveloka tuh gampang banget. Nah ceritanya Kanjeng Papi butuh bus dari Jogja ke Cikarang untuk tanggal 15 Februari. Setelah pilih-pilih di banyak aplikasi sejenis, akhirnya aku memilihkan bus KYM Trans dari Traveloka seharga Rp 170.000. Setelah itu tinggal diisi aja data penumpang yang akan berangkat berupa email, nama dan nomor handphone.

Pembayaran Tiket Bus


Setelah setuju dengan harga yang ditawarkan, plus ada sedikit potongan harga tiket,  lanjut ke pembayaran dan ternyata mbanking BRI kami tidak cukup untuk membayar tiket bus via Traveloka πŸ˜…. Akhirnya kami memilih bayar di Alfamart saja dengan tenggang waktu sekitar 45 menit. Harga tiket bus akan ditambah biaya administrasi di Alfamart sebesar Rp 2500. Struk pembayaran dari Alfamart tadi disimpan baik-baik karena di hari H akan ditunjukkan ke agen bus.


Keberangkatan dari Terminal Giwangan

Lucu banget kan busnya.
Dok : Kanje

Nah sekitar 1 jam sebelum keberangkatan, ternyata agen bus KYM Terminal Giwangan mengirimkan SMS ke nomor customer yang berisi permohonan untuk lapor dahulu ke agen. Waktu udah sampai di agen, nanti tinggal ditunjukkan e-tiketnya yang ada di email kemudian akan diganti dengan tiket fisik dan voucher makan.
Sms dari agen bus.
Dok : Kanjeng Papi

Tiket dan voucher makan. 
Dok : Kanjeng Papi

Sementara itu kalau kita mau membaca syarat dan ketentuan e-tiket, diharuskan untuk datang 60 menit sebelum jam keberangkatan. Bagus banget sih menurutku, biar orang yang suka telat-telat gitu bisa ontime dan akhirnya busnya juga sampai di agen selanjutnya ontime.

Sesampainya di agen bus, Kanjeng Papi disambut oleh petugas agen yang ramah. Nah penampakan busnya lucu banget, banyak gambar hello kittynya.

Untung si kecil nggak nganterin Kanjeng Papi ke Giwangan, kalo ikut nganter nanti malah dia yang kepengen naik busnya. πŸ˜…

FYI, saat pilih KYM Trans melalui Traveloka tuh kursinya ditentukan oleh operator bus alias nggak bisa pilih kursi sendiri. Jadi Kanjeng Papi dapat seat paling belakang plus dapat bantal dan selimut.  Nah tiket bus KYM Trans yang dipesan via Traveloka ini tidak bisa direschedule dan direfund. Tapi aku sampai saat ini belum tau apakah peraturan tersebut berlaku di semua operator bus yang bekerjasama dengan Traveloka atau tidak.

Bus kemudian berangkat sesuai jadwal yang tertera di tiket dan melalui trayek yang sama. Selama Kanjeng Papi melakukan perjalanan ini, tentu ada istri yang kepo banget di rumah dengan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh bus melalui Traveloka. Dari semua fasilitas yang ditawarkan, ternyata hanya satu yang kurang yaitu wifi. Menurut co-driver, Wifinya sedang kehabisan kuota. Untung saja Kanjeng Papi masih punya kuota internet.

Beristirahat Sejenak di RM Sendang Wungu

Bus beristirahat di RM Sendang Wungu.
Dok : Kanjeng Papi


Sebelum berangkat, aku selalu mengingatkan Kanjeng Papi untuk membawa air mineral karena belum tentu diberikan secara cuma-cuma saat bus berhenti di rumah makan. Bus berhenti di rumah makan Sendang Wungu jalan raya Jakarta-Semarang km.50 sekitar jam 9 malam. Di rumah makan ini tidak hanya bus KYM Trans saja yang berhenti, masih ada beberapa operator bus yang lainnya yang berhenti untuk beristirahat sebentar disini.

Suasana di dalam RM.
Dok : Kanjeng Papi

Menu makan malam saat itu berupa
Sayur bening tahu, mihun goreng, bakwan, bandeng goreng (gak utuh), sambal, krupuk dan disediakan minuman berupa teh hangat namun tidak ada air putih. Di rumah makan juga tersedia mushola dan toilet. Namun waktu bus untuk berhenti disini sangat terbatas,  hanya 20 menit saja.
Hmm kalau boleh besok lagi mending makanannya dibungkus aja kali ya 😝.
Penukaran voucher makan.
Dok : Kanjeng Papi

Melanjutkan Perjalanan ke Cikarang


Setelah berhenti di rumah makan, perjalanan dilanjutkan melalui tol Semarang. Oh iya sudah terjadi pergantian supir bus di daerah Sukorejo, sebelum berhenti di rumah makan. Keadaan jalan tol yang mulus bebas hambatan sering membuat perjalanan lebih cepat selesai dari jadwal yang tertera di tiket. Dan benar saja, Kanjeng Papi sampai di Exit Tol Cikarang Barat lebih cepat 30 menit dari jadwal yang ada di tiket.

The Result is......


Jadi menurut Kanjeng Papi perjalanan jauh menggunakan bus yang tiketnya dibeli melalui Traveloka itu OKE. Dengan harga tiket Rp 170.000 sudah bisa sampai di Cikarang dan diberikan fasilitas yang lumayan itu sangat membantu penumpang untuk beristirahat selama perjalanan. Apalagi Traveloka juga menerima pembayaran melalui berbagai channel seperti bank plat merah, alfamart dan channel lainnya. Sangat memudahkan bagi yang ingin bepergian jauh menggunakan bus tapi tidak bisa meluangkan waktu untuk pergi ke agen bus.



Tulisan ini bukan sponsored post Traveloka, tapi murni dibuat untuk sekedar share pengalaman saja.

Mau Pilih Bus Untuk Perjalanan Jauh? Perhatikan 3 Faktor Ini

Tidak ada komentar
Bus KYM Trans.
Dok : Lidya Trans

Banyak orang sering bilang pengalaman adalah guru yang terbaik. Emang bener sih, soalnya aku tidak begitu suka naik bus untuk perjalanan jauh juga hasil dari pengalaman. Pengalaman mudik waktu kecil masih sering menghantui waktu mau memilih bus jarak jauh. Bayanginnya tuh udah capek duluan, soalnya ketepatan waktu bus itu kan tergantung dari lalu lintas di jalan dan cara nyetir sopir bus satu dengan yang lain berbeda.

Beruntung kalau dapat supir yang nyetirnya enak, tapi kalau dapat yang sebaliknya nanti bisa kena mabuk perjalanan. Terus pengalamanku memilih transportasi pakai Traveloka juga karena selama ini tidak pernah mengecewakan dan tidak pakai ribet.

"Tenang aja aku tuh santai kok mau pake transportasi apapun, nggak kayak kamu Mi", kata Kanjeng Papi menjawab kekhawatiranku.


Jarak Pemberhentian Bus Dengan Tempat Tujuan




Seandainya tempat yang dituju Kanjeng Papi itu nggak jauh dari stasiun besar, mungkin aku akan memilihkan kereta api. Tapi jarak 30km dari stasiun besar itu lumayan jauh, makannya akhirnya pilih bus yang bisa menjangkau tempat tersebut.

Maksudku stasiun besar disini tuh stasiun tempat berhentinya kereta api jarak jauh, jadi ga cuma buat KA Lokal aja.

Nah kata seorang teman (yang tinggal di tempat tujuan Kanjeng Papi) itu sih ada kereta lokal, tapi kalau belum tau jadwalnya atau tidak bisa booking online kan malah bikin mikir ulang. Akhirnya pilihanku jatuh pada bus yang disediakan oleh aplikasi Traveloka. Satu-satunya operator bus yang disediakan Traveloka dari Jogja ke tempat tujuan Papi itu cuma KYM Trans. Padahal aku lihat di aplikasi lain kayak Pegi pegi dan Redbus ada banyak pilihan operator bus. Cuma karena emang aku masih memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi sama Traveloka, akhirnya aku urungkan niat untuk pakai aplikasi lain.

Faktor jarak tuh emang krusial banget, apalagi kalau pertama kali menginjakkan kaki di tempat baru. Ada baiknya sih cari yang paling dekat dengan tempat tujuan.

Setelah Kanjeng Papi ngobrol sama temannya, kemudian disarankan untuk turun di dekat exit tol. Nah aku memilih bus KYM Trans dari aplikasi Traveloka juga karena bus ini menurunkan penumpangnya di dekat exit tol tersebut. Sebelum memutuskan untuk pilih KYM Trans, aku langsung aku kepoin aja exit tol-nya pakai google maps. 😁 biar apa sih? Ya biar nggak khawatir kejauhan dari tempat tujuan.


Isi Dompet alias Harga



Faktor pendukung yang paling penting hingga akhirnya aku memilihkan bus untuk Kanjeng Papi itu adalah berkaitan dengan isi dompet. Harga tiket kereta api yang (katanya) subsidinya udah banyak dihapus itu kan sekarang lumayan banget walaupun kelas ekonomi, apalagi kalau pesennya agak mepet waktu keberangkatan pasti dapetnya mahal-mahal (jangan tanyakan harga tiket kereta yang luxury lho ya, nanti aku bisa nyesek doang liat digit angkanya 😒 soalnya harganya hampir sama kayak tiket pesawat rute Jakarta-Jogja). Makannya aku akhirnya memutuskan untuk pesen tiket bus aja untuk Kanjeng Papi.



Fasilitas Yang Diberikan




Sebagai istri yang sering kepo pake banget, akhirnya aku tanya-tanya terus ke Kanjeng Papi tentang fasilitas bus KYM Trans sesuai atau tidak dengan yang tertera di e-tiket dari Traveloka. Kalau melihat e-tiket yang diterbitkan oleh Traveloka sih fasilitasnya lengkap. Kenyataanya? Sampai tulisan ini dibuat sih cuma wifi aja yang tidak bisa digunakan. Setelah ditanyakan, kata co-driver tuh paketannya habis. Jadi harus mandiri, mengandalkan paket internet sendiri. πŸ˜… Untung Kanjeng Papi masih punya kuota jadi masih bisa cerita-cerita ke aku sampai hasilnya terbitlah tulisan ini. 😁
Kupon makan Kanjeng Papi.
Dok : Kanjeng Papi


Suasana di dalam RM Sendang Wungu.
RM ini merupakan langganan
 beberapa operator bus.
Dok : Kanjeng Papi 

Btw cerita tentang pengalaman Kanjeng Papi menggunakan tiket bus yang dibeli dari Traveloka bakal aku tuliskan di artikel selanjutnya ya.Oh iya, tulisan ini tidak diendorse oleh Traveloka yajadi bukan sponsored post.




Menemukan Berbagai Kejadian Unik di Transjogja

Tidak ada komentar
Transjoga yang berwarna biru
Mirip Tayo kan?
Dok : Tribunnews 

Di Suatu Senja Tertanggal 3 Oktober 2019


Ada sebuah rasa yang menyentuh sudut hati, saat melihat seorang bapak-bapak menyeka air mata menggunakan lengannya setelah menerima pemberian uang dari seorang ibu yang penampilannya sangat sederhana tapi memiliki kepedulian yang luar biasa.  Pemandangan sore itu, di sebuah halte transjogja, di mana aku berdiri sambil menggendong si kecil yang sudah mengantuk, di mana beberapa anak muda terlihat sibuk dengan smartphonenya tapi masih ada sesosok manusia dengan tingkat kepedulian luar biasa terhadap orang lain.

Sejak awal sebenarnya aku kurang menyimak kejadian apa yang menimpa bapak-bapak tersebut dan mungkin tidak akan memberikan perhatian kalau aku tidak menghadap ke arah barat sambil berharap transjogjanya segera lewat.  Sejak awal memasuki halte, aku melihat sesosok bapak itu bercerita kepada petugas halte. Sepertinya bercerita bahwa barangnya tertinggal di halte yang tidak ada petugasnya dan kemudian hilang.

Tidak lama kemudian datang sesosok ibu membawa kardus memasuki halte, mondar mandir seperti gelisah menunggu bus yang datang. Kalau dilihat dari raut wajahnya mungkin ibu ini berusia sekitar 45 tahun dan mungkin berprofesi sebagai pedagang yang sudah terbiasa menggunakan transjogja (terlihat dari cara si ibu meletakkan barangnya dengan cekatan di halte).

Ternyata bus transjogja yang akan aku tumpangi sudah terlihat di sudut barat halte, aku segera melangkahkan kaki ke dalam bus dan tidak bisa menyimak apa yang terjadi selanjutnya dengan si bapak atau ibu di halte tadi.

Transjogja berwarna kuning-hijau.
 Dok : Wonderfulisland


Mengenal Kendaraan Umum Sejak Kecil


Kendaraan umum baik swasta ataupun milik pemerintah itu sudah mengisi sebagian perjalanan hidupku. Waktu kecil aku sering diajak naik kendaraan sama ibu, mudik juga naik kendaraan umum, ya hampir kemana-mana juga naik kendaraan umum.
Sempat ada rasa kaget waktu pindah sekolah ke Kulon Progo karena kendaraan umum tidak menjangkau berbagai tempat. Pokoknya kalau mau naik bus itu harus jalan kaki dulu ke jalan utama. Nah bus yang pernah jadi langgananku untuk mengantar ke sekolah bakalan aku tuliskan di cerita lainnya. 😁

Beberapa Cerita Lain Diatas Transjogja

Di dalam transjogja jalur 10.
Dokpri

Kembali lagi ke transjogja, aku kenal sama transjogja sekitar tahun 2008. Waktu itu diajakin temen main ke Jogja, terus mau ke Malioboro naik bus transjogja. Transjogja nih adem pake AC, nyaman duduknya dan ada petugas yang mempersilahkan masuk. Aku yang biasanya naik bus berdesak-desakan dan panas kan terheran-heran dengan transjogja. πŸ˜‚ Serius! Ndeso banget kok aku. Suatu ketika bahkan pernah ditanyain tujuan naik transjogja sama petugasnya dan aku bingung jawabnya wong aku cuma mau naik transjogja aja muter-muter. πŸ˜… Selowww banget kan.

Naik Transjoga bersama si kecil,
Kata dia sih naik Tayo.
 Dokpri

Rasa tepo seliro (Tenggang Rasa) yang Nyata


Akhir-akhir ini aku sering dikasih tempat duduk oleh penumpang lain karena aku bawa batita. Tandanya tepo seliro itu masih ada di masyarakat kita. Beberapa kali aku sempat menolak saat diberikan tempat duduk karena yang memberikan juga sudah sepuh, kasian juga kan kalau sudah sepuh terus berdiri di dalam transjogja.

"maturnuwun sanget pak/bu, kulo caket namung mandap ten halte ngajeng", biasanya aku berkilah begitu kepada penumpang sepuh yang memberikan kursinya.

Bau Keringat

Sekitar sebulan yang lalu aku pulang menggunakan transjogja dan berdiri karena penuh. Eh di depanku ada seseorang yang bau keringatnya kemana-mana 😱. Rasanya mual plus pusing, pengen segera turun dari transjogja tapi kok belum sampai halte tujuan. Ya dibetah-betahin aja sampai akhirnya yang empunya keringat ternyaat turun duluan sebelum aku turun.

Beruntung pas bau keringat itu nggak ditambah ada yang kentut kan? 🀣

Cerita Ibu tentang Transjogja

Ternyata ibuku sebagai orang yang awam banget tentang Jogja juga punya cerita waktu naik Transjogja. Mungkin kejadiannya sekitar 5 tahun yang lalu, waktu portabel-portabel transjogja sudah ada tapi kalau mau turun portabel harus bilang dulu ke petugasnya (nggak kayak sekarang, petugasnya nawarin," ada yang mau turun portabel nggak?").

Jadi ibu mau ke kosku naik Transjogja, seharusnya turun di sebrang RS Harjolukito. Tapi karena beliau kurang paham letak portabelnya akhirnya ngomong ke petugasnya udah telat. Terus diomelin sama petugasnya dan diturunin di halte Janti bawah jembatan. Dari bawah jembatan, ibu akhirnya jalan kaki sampai ke sebrang Harjolukito. Sejak itu ibu tidak mau lagi naik transjogja, katanya takut dimarahin petugasnya.  πŸ˜₯

Aku juga tetap harus bijak menilai dari kejadian ibu tadi sih.

Tapi sekali lagi itu kejadiannya udah jaman dulu ya, aku tau kok yang mana petugas yang ngomelin ibu tapi aku juga nggak tau apakah dia masih kerja di transjogja atau tidak. Mungkin kalau masih, bisa ngobrol tentang kerjaanya di transjogja kali ya πŸ˜‚. Ambil cerita dari sudut pandang berbeda gitu.

Transjogja Kini

Petugas di dalam bus Transjogja
sedang berkutat dg manifest. 
Dokpri

Kalau dulu masih ada petugas yang marah-marah saat penumpang telat turun, aku yakin sekarang pembenahan untuk menyadarkan petugas agar melayani penumpang dengan sepenuh hati juga sudah dilaksanakan oleh petugas transjogja. Tapi kalau penumpang yang ngeselin pasti masih ada dong.πŸ˜‹

Ketika kita merasa bahwa petugas sudah berusaha melayani sebaik mungkin, memberikan ucapan terima kasih yang tulus saat turun dari bus atau halte kayaknya pas banget untuk mereka.

Semoga semakin banyak armadanya yang baru, semakin baik pelayanannya kepada penumpang dan semakin dipermudah pembayarannya (bisa cashlessπŸ˜‹) ya Transjogja! Btw info penting nih Transjogja sekarang jalurnya udah banyak dan udah punya akun instagram di sini 😁

Tulisan ini sama sekali tidak diendorse oleh Transjogja atau disuruh siapapun ya. Aku sebagai penumpang Transjogja sejak lama pengen nulis tentang Transjogja aja.