Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Operasi FAM Payudara, Tidak Terlupakan!

Tidak ada komentar

 

operasi pertamaku yang tidak terlupakan.


Benjolan pada payudara seringkali membuat cemas para wanita. Hal ini dikarenakan benjolan bisa dapat disebabkan oleh tumor, kanker, atau penumpukan lemak seperti lipoma. Nah untuk mengetahui diagnosis yang tepat, tentunya kita perlu bertemu dokter bedah umum dan melakukan pemeriksaan penunjang seperti USG payudara.

Awal tahun 2025 memang penuh kejutan selain kebijakan absurd pemerintah. Baru menjalani tahun 2025 beberapa hari,  aku mulai merasakan ada benjolan di payudara sebelah kiri menjelang haid. Awalnya ingin aku abaikan saja, namun ingat cerita seorang teman yang kena tumor payudara jadi bikin overthinking. Sampai di hari ke 7 haid kok benjolan masih ada, hari ke 10 juga masih ada, akhirnya overthinking beneran sambil melakukan gerakan SADARI.

Pengalaman Pertamaku Operasi FAM Payudara

Bermula dari Penerimaan Diri

Setelah bergulat dengan pikiran sendiri selama 2 hari berturut-turut, akhirnya aku menerima kenyataan bahwa memang ada benjolan di payudara kiri yang terasa agak sakit saat diraba dan selanjutnya harus segera bertemu dokter. Beruntung sekali Kanjeng Papi bisa diajak sharing dan selalu memberikan support untuk bertemu dokter, jadi tidak ada hambatan yang berarti untuk melakukan langkah selanjutnya. Selain itu, seorang teman yang pernah mengalami benjolan di payudara juga mendukungku untuk segera bertemu dokter.

Menggunakan BPJS Kesehatan untuk Operasi Payudara

Untuk mendapatkan layanan kesehatan menggunakan BPJS, aku harus menemui dokter klinik terlebih dahulu. Dengan keadaan benjolan yang terasa agak sakit, dokter umum di klinik bunda medika segera memberikan rujukan ke rs terdekat yaitu RS Amanda Cikarang Selatan untuk bertemu dokter bedah umum. Kebetulan hari itu ada praktek dokter bedah umum di rumah sakit, jadi aku langsung kesana walaupun menunggu lama karena dapat nomor antrian yang agak besar.

Pertama kali bertemu dokter bedah umum dan berkonsultasi rasanya kurang nyaman karena perbedaan cara berkomunikasi dengan dokter umum di klinik. Bahkan keluar ruangan dokter pun air mata sudah berderai. Pada intinya ada benjolan di payudara kiri yang agak besar, kira-kira berdiameter 2cm dan aku akan operasi 4 hari lagi yaitu di hari Senin. Aku juga harus mengurangi makanan yang banyak pengawet karena memicu kelainan di payudara. Tapi cara menyampaikannya itu “seolah” ngejudge bahwa aku ibu yang tidak becus ngasih makan keluarga karena masih konsumsi ayam broiler, mie instan dan ultra process food (sosis, nugget, bakso dsb). Sesampainya di rumah, aku berusaha menata hati dan pikiran, lalu memantapkan diri untuk melangkah ke meja operasi karena ini pertama kalinya aku dioperasi. Aku udah di tahap nggak peduli mau dijudge apa sama dokter bedah, yang penting dokter bedah melakukan tindakan operasi sesuai jadwal.

Pengalaman Pertama Kali Operasi Seumur Hidupku

masih bisa ngguya ngguyu mau operasi, tandanya udah siap.

Sebelum tindakan operasi, aku melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang yaitu USG Payudara di hari Jumat. Hasil dari usg payudara diketahui bahwa benjolan berdiameter 2cm dan kemungkinan kista menurut dokte sp radiologi. Bukti USG diserahkan untuk dibawa pulang, selanjutnya akan dibawa untuk tindakan operasi di hari Senin.

Senin, 20 Januari 2025

Dikarenakan perawat menyuruh untuk datang jam 6 pagi ke RS Amanda, makannya aku datang kepagian dan bagian informasi belum buka. Jadi nunggu bagian informasi buka, baru mendaftarkan diri untuk operasi ke bagian rawat inap. Dokumen yang perlu dipersiapkan adalah surat rujukan dan KTP. Untuk hasil usg diberikan ke perawat untuk nanti dipakai dokter bedah umum saat operasi berlangsung. Sebelum masuk ruang rawat inap, aku harus cek darah dan rontgen di radiologi juga.

Seharusnya aku mendapat jatah ruangan kelas 1 sesuai yang tertera di kartu bpjs, namun karena sedang penuh aku dititipkan di kelas 2. Jika akan naik kelas ke VIP, yang tercover bpjs hanya 70% dari biaya ruang rawat, tindakan dokter dan obat-obatannya. Ya daripada harus keluar uang lagi yang tidak bisa diprediksi seberapa banyak, tidak apa-apa di kelas 2 saja deh.

FYI, untuk surat-surat administrasi yang harus ditandatangani sebaiknya dibaca dengan seksama. Poin penting yang perlu diingat adalah pasien tidak bisa pulang sesuai kemauan sendiri, jika memaksa pulang maka biayanya tidak dicover/ditanggung BPJS. Selain itu, aturan dari RS Amanda yang perlu dipahami adalah anak tidak boleh ikut menunggu orang sakit di dalam ruang rawat inap dan orang yang akan jenguk harus mematuhi jam besuk. Sebenarnya aturannya sudah bagus, tapi penerapannya belum maksimal.

kenapa harus diinfus?

Setelah menunggu 3 jam lebih, akhirnya aku mendapatkan kamar dan diinfus. Ini juga pertama kalinya aku diinfus sampai tanya sama perawat kenapa harus diinfus kan aku masih bisa makan sendiri. Menurut perawat diinfus ini nanti membantu untuk memberikan obat dan bius saat akan dioperasi. Oh iya sebelum operasi, aku disuruh puasa dulu oleh perawat.

Operasi dimulai sekitar jam 12 siang, aku dipindah ke ruang operasi oleh perawat dibantu Kanjeng Papi. Saat masuk ke ruang tunggu operasi, aku merasa takut karena sendirian, kan tidak bisa ditemani Kanjeng Papi. Memasuki ruang operasi, perawat dan dokter disana ngajak ngobrol yang membuat pasien lebih rileks. Setelah itu, operasi pun diawali dengan suntikan bius yang membuat mata menjadi berat dan suara dokter semakin tidak terdengar,  karena aku mulai tidak sadarkan diri.

Menurut Kanjeng Papi, waktu operasiku cukup lama karena termasuk operasi besar. Tapi karena aku udah nggak sadar, rasanya cepet aja tau-tau sudah jam 3 sore. Setelah operasi, aku dipindahkan ke ruang rawat inap, diberikan hasil operasi dalam tabung bening yang isinya mirip lemak sapi dan merasa sangat lapar. Untung kanjeng papi gercep beli makan, saat itu juga aku langsung makan sampai habis dengan porsi kuli. Eh tidak lama kemudian jatah makanan pasien datang padahal perut sudah tidak sanggup menampungnya.

jatah makan pasien, enak kok ada rasanya.

FYI, operasi FAM yang aku lakukan ini sayatannya hanya sepanjang 2 ruas jari ya. Jangan dibayangkan kayak di sinetron-sinetron itu, nanti mindsetnya jadi takut duluan.

Kalau ditanya sakit nggak operasinya, jawabannya menurutku tidak terlalu sakit, malah lebih sakit saat melahirkan normal. Namun yang jadi pertanyaan aku kena tumor atau kista? Kok hasil operasinya bentuknya kayak lemak sapi ya?

dibikinin jerapah kertas sama si kecil, katanya buat nemenin aku di rumah sakit. 


Rawat inap di kelas 2 dengan 4 bed dalam satu ruangan itu rasanya ramai sekali. Apalagi ada pasien yang dijenguk oleh banyak orang, ngobrol nggak selesai-selesai sampai diperingatkan satpam bahwa jam kunjung sudah selesai. Sekitar jam 10 malam, perawat cek kondisiku dan memberitahu bahwa ada kamar kelas 1 yang siap digunakan. Tapi karena aku sudah ngantuk dan malas beresin barang-barang, aku memilih untuk di kelas 2 saja. 

kanjeng Papi setelah menungguku dioperasi


Oh iya aku memang tidak ada yang menemani di ruang rawat inap,alias pasien tanpa pendamping (sendirian).  Hal ini sudah keputusan kami sejak akan operasi, alasannya supaya kanjeng papi menemani anak di rumah dan bisa tidur dengan nyaman. Kalau tidur di rumah sakit mendampingi pasien kayak aku kan kasian tempatnya tidak nyaman dan takut tumbang kena penyakit.

Selasa, 21 Januari 2025

Aku sudah diperbolehkan pulang setelah menandatangani berbagai surat administrasi. Karena bawaanku tidak banyak, jadi aku bisa packing sendiri dan urus administrasi dibantu perawat. Selain itu, perawat menyarankan untuk ganti perban ke tenaga kesehatan supaya luka sayatan operasinya lekas membaik. Aku juga mendapat antibiotic, obat pereda nyeri dan surat kontrol untuk digunakan di tanggal 25 Januari 2025. Alhamdulillah operasiku lancar dan selesai dengan baik, tapi kerumitan selanjutnya mengikuti seperti mandi harus pakai washlap, ganti perban, posisi tidur dan pemilihan pakaian yang nyaman untuk dikenakan pasca operasi.

2x Kontrol ke Dokter Bedah Umum di RS Amanda

Menggunakan bpjs itu harus sabar dan meluangkan banyak waktu. Beruntung sekali aku sudah ambil nomor antrian menggunakan jkn mobile, namun tetap saja untuk bertatap muka dengan dokter butuh antri lama. Setelah ganti perban oleh perawat, baru bisa bertemu dokter bedah umum. Dokter hanya menanyakan ada keluhan atau tidak, menyatakan bahwa aku kemungkinan terkena FAM (tumor jinak payudara) namun tidak bisa menegakkan diagnosisnya karena hasil lab belum keluar. Hasil bertemu dokter, diberikan obat Pereda nyeri dan antibiotik.

kesalahan nomor rujukan menyebabkan tidak bisa ambil nomor antrian di mobile jkn

Saat akan kontrol ke dokter untuk kedua kalinya, ada kesalahan nomor surat control yang diberikan petugas BPJS RS Amanda jadi tidak bisa ambil nomor antrian lewat mobile JKN. Setelah beberapa kali whatsapp, akhirnya nomor surat control diperbaiki dan bisa ambil nomor antrian.

Saat kontrol kedua di tanggal 6 Februari, perawat melepaskan simpul jahitan dan dokter baru bisa menegakkan diagnosis bahwa aku kena FAM (Fibroadenoma Mammae) bukan kista payudara. FAM biasanya menyerang perempuan pada usia produktif, pada umumnya tidak membahayakan, tidak bersifat ganas seperti kanker, namun harus tetap waspada.

Selanjutnya dokter menyarankan untuk mengubah gaya hidup yang lebih sehat, menghindari makanan tinggi pengawet, konsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang. Setelah kontrol kedua,  pengobatanku dinyatakan selesai.

Perempuan Harus Perhatian Dengan Kesehatan Diri

Tetap pantau kebijakan absurd pemerintah soal bpjs di X, takut pas mau pulang tiba-tiba ada tagihan yang harus dibayarkan.

Dari pengalamanku operasi payudara, sebagai perempuan harus aware dengan diri sendiri terutama kesehatan. Perhatian kepada diri sendiri bisa dimulai dengan rutin melakukan Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di hari ke 7 sampai 10 saat haid. SADARI ini banyak manfaatnya, salah satunya mendeteksi dini adanya benjolan atau kelainan lain di payudara. Jika sudah melakukan SADARI segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan supaya dapat penanganan yang tepat dan cepat. Jika menggunakan BPJS, jangan malu untuk bertanya (baik secara langsung ataupun melalui whatsapp) kepada petugas BPJS supaya mendapatkan informasi yang jelas dan benar. Apalagi akhir-akhir ini pemerintah sering bikin kebijakan mendadak kayak tahu bulat, termasuk kebijakan soal penggunaan BPJS ini, jadi harus tetap update informasi dari sumber yang valid ya.

Tangan Digigit Tikus, Apakah Berbahaya?

21 komentar
tikus membawa penyakit. dok : kompas


 Tikus, hewan pengerat yang pernah membawa wabah black death pada abad ke 14 di Eropa, memang tidak boleh disepelekan kehadirannya. Kejadian digigit tikus menjadi pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan sekaligus memberikan pelajaran berharga. Bukan rasa sakit karena gigitannya yang membuatku cemas, justru setelah digigit jadi bertanya-tanya apakah gigitan tikus perlu vaksin rabies? Jika perlu vaksin, bagaimana cara mengakses Vaksin Anti Rabies (VAR), dimana aku bisa mendapatkanya, harganya berapa, apakah pemerintah memberikan layanan gratis vaksin rabies dan banyak pertanyaan lagi yang membuatku overthinking sepanjang hari.

Pengalaman Digigit Tikus

Di Senin yang cerah, 7 Oktober 2024 aku digigit tikus sampai berdarah saat membantu saudara menangkap tikus di dapur. Kejadiannya begitu cepat, tikus kecil menggigitku saat aku berhasil memegang ekornya untuk dipukul. Aku kira gigitannya yang berjumlah 3 titik di tangan kiriku tidak tembus, ternyata ada darah mengalir melalui 1 titik gigitan.

Aku berusaha tidak panik, langsung membasuh gigitan dengan air mengalir dan sabun, selanjutnya diberikan betadine pada luka gigitan. Setelah itu aku tetap mencari informasi tentang langkah selanjutnya. Dari berbagai informasi yang aku dapat, kemungkinan rabies setelah digigit tikus itu minim sekali. Namun ada yang perlu diwaspadai yaitu demam gigitan tikus/ Rat Bite Fever (RBF), ditularkan dari bakteri yang masuk setelah digigit tikus. Dari website Hello Sehat diinformasikan bahwa reaksi alergi seperti gatal-gatal, ruam dan bengkak pada mulut bisa terjadi pada 10 menit pasca gigitan tikus.


Digigit Tikus Bahaya atau Tidak?

luka akibat gigitan tikus di hari pertama. dokumentasi pribadi

Digigit tikus berbahaya atau tidak? Pertanyaan ini langsung aku lontarkan kepada dokter yang memeriksa luka di tanganku saat mengunjungi klinik Bunda Medika, Cikarang Selatan. Menurut dokter tentu saja berbahaya walau lukanya hanya kecil. Aku harus segera mendapatkan vaksin anti rabies (VAR) sebelum 24 jam karena digigit tikus liar. Namun sayang sekali klinik tidak menyediakan VAR, jadi harus ke puskesmas terdekat. Oh iya dari klinik dberikan salep, antibiotic, obat pereda nyeri dan demam. FYI, 10 menit pasca gigitan, aku tidak merasakan alergi apa-apa jadi tidak terlalu khawatir. 

“Biasanya di puskesmas tersedia VAR, coba ibu ke puskesmas saja,”kira-kira seperti itu saran dari dokter.

Awalnya aku yang tidak panik justru panik setelah bertemu dokter. Hal ini dikarenakan sudah overthinking cara mengakses VAR-nya bagaimana, kalau kena rabies gimana, ini harus cepat diberikan VAR tapi dimana, dan banyak lagi.

Di tengah siang bolong, dengan keadaan yang panik, aku langsung ke puskesmas Sukadami, puskesmas terdekat dari klinik Bunda Medika. Aku sampai di puskesmas sekitar jam 11.30 kemudian diarahkan mengambil antrian. Sayang sekali petugas sudah mulai istirahat, jadi yang dilakukan hanya menunggu waktu jam operasional kembali. Sekitar pukul 12.30 aku bertanya kepada petugas puskesmas tentang vaksin anti rabies setelah digigit tikus. Nah disini aku semakin bingung karena menurut petugas ada kemungkinan diberikan vaksin tetanus.

Dikarenakan petugas yang berwenang belum ada di tempat dan agak sulit dihubungi, aku diberikan opsi untuk pulang dulu atau menunggu puskesmas beroperasional kembali. Karena baterai handphone sudah hampir habis, aku memutuskan untuk pulang saja sambil menunggu informasi lebih lanjut dari puskesmas. Jadi tidak dapat tindakan apa-apa di puskesmas.

Sekitar jam 2 siang, petugas puskesmas menginformasikan untuk cek darah. Namun aku sudah memutuskan untuk bertemu dokter ke rumah sakit Siloam.

 

Digigit Tikus Perlu Vaksin Rabies?

“ini harusnya dapat vaksin apa sih? Tetanus atau rabies?” pikiranku mulai berkecamuk dan bertanya kesana kemari.

Ada yang menyarankan vaksin tetanus ke bidan karena sudah pernah mengalami digigit tikus, tapi di sisi lain aku juga masih penasaran dengan saran dokter dari Siloam. Sorenya aku ke bidan Rani yang tempatnya tidak jauh dari rumah. Menurut bidan, aku sudah overload informasi dan panik. Saran dari bidan jika memang lebih mantap ke dokter sebaiknya ke dokter saja, itu hak pasien untuk memilih. Akhirnya aku langsung lanjut ke dokter umum di RS Siloam dianter Kanjeng Papi.

kartu vaksin dari RS Siloam Lippo Cikarang. dokpri

Alasan memilih RS Siloam Lippo Cikarang karena Vaksin Anti Rabies (VAR) tersedia disini, walaupun dengan harga yang lumayan menguras kantong yaitu sekitar 500 ribuan. Saat bertemu dokter, aku disarankan untuk mendapatkan vaksin anti rabies (VAR) sebanyak 3x suntikan. VAR yang diberikan di Siloam adalah merk Verorab.

suntikan VAR pertama. dokumentasi pribadi

Walaupun tikus bukan carrier rabies tapi alasan dokter memberikan VAR dalam kasusku karena gigitan tikus liar yang hidupnya di tempat kotor. Jadi pemberian VAR untuk tindakan preventif. Persis seperti apa yang dikatakan dokter di klinik Bunda Medika.

bukti pembayaran vaksin di RS Siloam Lippo Cikarang. dokpri

Dokter tidak memberikan vaksin tetanus karena luka gigitan tikus yang aku alami tidak cukup dalam. Menurut dokter, pemberikan vaksin tetanus berdasarkan kedalaman lukanya. Dokter juga memberikan informasi bahwa biasanya stok VAR ada di dinkes, jadi dicoba saja ditanyakan dulu ke dinkes. 

Overall, pelayanan RS Siloam Lippo Cikarang memang patut diacungi jempol. Mulai dari satpam, petugas administrasi, perawat dan dokter yang menanganiku sangat informatif dan ramah. Apakah setelah VAR suntikan pertama aku bisa tidur nyenyak? Oh tentu tidak!


Hari ke 2 Pasca Gigitan Tikus , Drama Pencarian VAR Dimulai

Sebenarnya demam pasca gigitan tikus juga menjadi kekhawatiranku. Dikarenakan aku masih penasaran dengan saran dokter untuk menanyakan stok VAR, aku mencoba menghubungi ke dinas kesehatan kabupaten Bekasi melalui kontak whatsapp. Kenapa aku kontak melalui whatsapp? Karena di websitenya tidak ada informasi faskes rujukan rabies center.

Jadi aku butuh informasi stok VAR tersedia atau tidak di Dinkes Kabupaten Bekasi, kalau memang stoknya tersedia, ditaruh di faskes mana. Selebihnya  biar aku yang nyamperin ke tempat tersebut.

Jawaban Dinkes Kab. Bekasi terkesan muter-muter. 

Jawaban dari Dinkes Kabupaten Bekasi menurutku terkesan muter-muter dan bikin bingung, pada intinya aku disuruh balik ke puskesmas, nanti kalau ada stoknya di puskesmas langsung ditangani dan untuk vaksin tuh dinkes harus minta dulu ke provinsi. Disitu aku simpulkan bahwa stok VAR ini nggak ada di dinkes kabupaten Bekasi dan kalau harus minta ke provinsi akan memakan waktu lama.

Tidak puas dengan jawaban tersebut dan masih penasaran, aku mengirimkan email ke Dinkes Provinsi Jawa Barat (walaupun sebenarnya sudah hopeless banget). Tidak lama kemudian, Dinkes Provinsi Jawa Barat menginformasikan bahwa stok VAR tersedia di Dinkes Kabupaten Bekasi, namun untuk mendapatkannya harus konsultasi ulang ke puskesmas dan kontrol lukanya. Yang perlu di highlight disini bahwa stok VAR tersedia di Dinkes Kabupaten Bekasi, informasi yang diberikan dinkes kabupaten Bekasi ini menurutku tidak transparan, seperti dilempar-lempar. 

Jawaban dari Dinkes Provinsi Jawa Barat.

Seandainya jawaban Dinkes Kabupaten Bekasi itu jelas seperti dibawah ini, pasti aku juga tidak akan bertanya-tanya lagi : 

Stok VAR ada di kami, namun untuk mendapatkannya nanti ada prosedurnya yaitu ibu kembali ke puskesmas dan diperiksa kembali lukanya. setelah itu dokter yang akan memutuskan apakah perlu VAR atau tidak.

Capek rasanya mencari informasi VAR, menghubungi puskesmas dan RS rujukan rabies, sampai menghubungi dokter hewan pun sudah aku lakukan. Mulai dari RS Tarakan Jakarta sampai rabies center yang ada di Jogja pun aku hubungi untuk menanyakan VAR. Dari beberapa fasilitas kesehatan yang aku hubungi, ternyata akses VAR ini harus sesuai prosedur yang sudah dikeluarkan oleh kemenkes.

WA dari petugas puskesmas Sukadami. dokpri

Sore harinya aku dihubungi oleh petugas puskesmas Sukadami, pada intinya puskesmas memberikan informasi bahwa tikus bukan carrier rabies namun tetap akan mengusahakan pemberian VAR. Tidak lama kemudian, petugas puskesmas memberikan kabar baik yaitu aku mendapatkan VAR 1x untuk tanggal 14 Oktober di Puskesmas Sukadami. Untuk jenis VAR yang diberikan puskesmas menggunakan Rabivax.

tata laksana rabies kemenkes


Hari ke 7, Vaksin Anti Rabies di Puskesmas Sukadami

Alhamdulillah sampai hari ke 7 aku tidak merasakan alergi, demam atau hal-hal yang ditakutkan setelah digigit tikus. Namun memantau kesehatan diri itu tetap perlu dilakukan karena Rate Bit Fever (RBF) dan rabies tidak langsung muncul saat itu juga.

Pagi-pagi aku sudah berangkat ke puskesmas Sukadami untuk mendapatkan vaksin Rabivax. Sekedar informasi saja puskesmas Sukadami buka jam 8 pagi.  Setelah mempersiapkan vaksin, petugas memanggilku ke dalam ruangan periksa pada pukul 08.30. Setelah vaksin disuntikkan, petugas memberitahukan jika tidak ada gejala apa-apa maka vaksin tidak perlu dilanjutkan. Aku sangat mengapresiasi petugas puskesmas karena sudah memberikan informasi yang jelas dan pelayanan yang baik.

bukti pemberian VAR. dok pribadi


Sampai saat aku menuliskan pengalaman ini di hari ke 14 pasca digigit tikus, alhamdulillah aku tidak menunjukkan gejala apapun dan masih diberikan kesehatan oleh Tuhan jadi VAR dihentikan.

 

Waspada Kehadiran Tikus di Rumah, Bawa Banyak Penyakit!

Tikus, hewan pengerat yang tidak boleh disepelekan kehadirannya karena banyak membawa penyakit. Meskipun tikus bukan carrier rabies, namun beberapa dokter akan menyarankan vaksin anti rabies jika digigit tikus liar yang hidup di tempat kotor. Berurusan dengan tikus memang sangat menyebalkan. Dari pengalaman ini aku belajar bahwa jangan sekali-kali menangkap tikus secara langsung karena beresiko digigit. Lebih baik menggunakan alat yang panjang, lalu pukul saja kepalanya.

Walaupun kecil, gigitan tikus berbahaya karena dapat menyebabkan demam gigitan tikus/rat bite fever (RBF) dan berbagai penyakit lainnya yang jika tidak segera diobati dampaknya fatal. Menurut dokter yang aku temui, pemberian vaksin anti rabies (VAR) sebaiknya segera dilakukan maksimal 24 jam setelah digigit tikus liar sebagai tindakan preventif.

Tidak semua RS punya stok VAR, untuk di Cikarang setauku hanya RS Siloam Lippo Cikarang dengan harga VAR yang cukup menguras kantong.Selain itu ada beberapa rumah sakit pemerintah yang ditunjuk sebagai rabies center pasti mempunyai stok VAR. 

Sayangnya tidak semua informasi mengenai fasilitas kesehatan yang ditunjuk sebagai rabies center ini terbuka bagi masayarakat. Terkadang website pihak terkait pun tidak menampilkan informasi rabies center karena bukan daerah rabies. Jadi dari kita harus aktif mencari informasi sendiri yang mengakibatkan overload informasi, ujung-ujungnya bikin panik.

Selain itu, alur pelayanan mendapatkan VAR ini panjang karena stok VAR sangat terbatas. Untuk mendapatkan VAR tergantung pada hasil pemeriksaan dokter dan pemberian VAR bisa dihentikan jika tidak terjadi gejala rabies.

 

 

 

 

 

Langkah Kecil Untuk Menjaga Hutan Indonesia

10 komentar

Langkah kecil untuk menjaga hutan Indonesia
Hutan yang ada di dekat rumah nenek. dokumen pribadi

 

Akhir-akhir ini aku sering ngajak si kecil untuk nonton video keindahan hutan Kalimantan di channel youtube keluarga Kalaweit. Pohon-pohon yang tinggi di hutan hujan tropis pulau Kalimantan ternyata sangat indah. Dengan memperkenalkan bahwa hutan adalah rumah bagi flora dan fauna melalui tayangan yang tepat, menurutku ini adalah sebuah langkah awal bagi si kecil untuk mencintai hutan dan menjaga hutan Indonesia.

Indonesia sebagai negara yang terletak di garis khatulistiwa mempunyai hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia. Oleh karena itu hutan Indonesia sering disebut sebagai salah satu paru-paru dunia. Hutan hujan tropis yang luas terletak di pulau Kalimantan.

Ngomongin soal luas hutan Indonesia, menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luasnya mencapai 91,4 hektar atau 50,1 % dari luas daratan pada tahun 2019. Selain memiliki hutan hujan tropis yang luas di Kalimantan, ternyata negara ini  juga memiliki beberapa jenis hutan lainnya. Yaitu hutan bakau, hutan mangrove, hutan gugur, hutan lumut, hutan rawa, hutan musim, sabana dan stepa.

Kekayaan hutan Indonesia tidak terbatas pada keanekaragaman hayatinya saja, tapi juga keanekaragaman hewani yang mungkin tidak bisa ditemukan di tempat lain. 

berwisata ke hutan kota tanpa meninggalkan sampah
berwisata ke hutan kota Deltamas. dokumen pribadi


Oh iya untuk hasil hutan Indonesia diantaranya kayu, damar, resin, minyak kayu putih dan masih banyak lagi.  Tentu saja #IndonesiaBikinBangga dengan #HutanKitaSultan ya. Namun kondisi hutan Indonesia saat ini bisa dikatakan tidak baik-baik saja.

 

Ancaman terhadap Hutan Indonesia Sudah di Depan Mata

Ditengah kebanggaan kita akan hutan Indonesia yang sangat kaya, ternyata terdapat berbagai ancaman yang sudah ada di depan mata,  seperti dibawah ini.

Deforestasi Hutan/Penggundulan Hutan

Deforestasi hutan oleh perorangan ataupun untuk industri ini sangat nyata. Pengalaman melihat sendiri deforestasi hutan pernah aku alami. Sewaktu kecil dan tinggal dengan nenek di salah satu desa yang tidak jauh dari hutan, aku terbiasa melihat warga yang dengan sengaja menebang pepohonan di hutan.

Suara gergaji mesin yang sedang menumbangkan pepohonan besar seringkali terdengar dari sisi lain bukit. Padahal setauku tempat itu merupakan hutan “tutupan” yang tidak boleh ditebang pohonya tetapi masih boleh diambil hasil hutannya seperti kemiri, merica bolong dan daun kayu putih. Kayu-kayu dari hutan kemudian dibawa ke dekat jalan raya untuk diangkut oleh truk-truk besar yang akan datang di hari-hari tertentu.

hutan di sekitar desa masih hijau
suasana pagi di desa Kalibiru, sekarang terlihat hutannya masih hijau karena sudah tidak ada deforestasi hutan. dokumen pribadi


Akibat dari deforestasi hutan yang sudah terjadi bertahun-tahun, desa nenek seringkali kekurangan air bersih di musim kemarau. Perbukitan menjadi gersang dan warga tidak bisa bercocok tanam karena kekeringan. Nah baru pada tahun 1996 diresmikan bendungan atau waduk Sermo, yang digunakan untuk menampung air hujan dan dapat menyuplai air bersih ke desa tempat nenek tinggal.

 

Pencemaran Hutan dengan Sampah

Sekarang hutan di desa nenek sudah berubah menjadi tempat wisata yang terkenal. Namun seperti masalah pada umumnya yaitu sampah di hutan semakin banyak. Pencemaran hutan dengan sampah ini sangat membahayakan kelangsungan ekosistem hutan loh. 

Menurut Waste4change sampah anorganik yang sulit terurai akan membuat lapisan tanah susah ditembus oleh akar tanaman. Jadi tanamannya sulit tumbuh dengan baik. Selain itu sampah yang menumpuk dapat menghalangi air hujan untuk menembus ke dalam tanah sehingga menghambat proses penyerapan mineral. 

Nah dampak jangka panjangnya tentu saja akan menyebabkan berkurangnya mikroorganisme yang dapat menyuburkan tanah. Sampah juga dapat mencemari sumber air yang ada di hutan. Kalau airnya sudah tercemar, tentu tidak bisa dikonsumsi oleh kita karena akan menyebabkan penyakit seperti kolera, diare disentri dan lainnya.

 

Kebakaran Hutan

kebakaran hutan. Gambar oleh Ylvers (Pixabay)

Kebakaran hutan di Indonesia seringkali menyita perhatian dunia. Bahkan Wahli sampai menuliskan  kebakaran hutan ini sudah seperti agenda tahunan. Setiap memasuki musim kemarau di Indonesia, pasti ada saja hutan yang terbakar. Menurut harian Republika, dari awal tahun 2022 sampai tanggal 27 Juli 2022 sudah terjadi 131 peristiwa kebakaran hutan dan lahan. 

Kebakaran hutan mengakibatkan punahnya flora dan fauna yang tinggal di hutan, serta berdampak langsung pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Selain itu asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) dan infeksi mata.

 

Perburuan Satwa Liar

Hutan merupakan rumah untuk berbagai jenis flora dan fauna, termasuk satwa liar. Nah perburuan satwa liar ini tentu akan membuat ekosistem di hutan menjadi tidak seimbang. Nah jika ekosistemnya saja tidak seimbang, tentu saja akan berpengaruh ke rantai makanan.

Ya misalnya gini deh, kalau monyet yang biasanya makan buah-buahan di hutan sudah habis diburu, nanti siapa yang akan membantu penyebaran biji-bijian di hutan. Terus predator puncak mau makan apa kalau monyet sebagai salah satu makanan mereka udah nggak ada?

Bahaya yang mengancam dari perburuan satwa liar lainnya adalah penyakit zoonosis. Bisa saja bakteri yang menempel di salah satu hewan liar itu kelihatannya tidak berbahaya bagi hewan tersebut. Tetapi ternyata sangat berbahaya bagi manusia dan menyebabkan penyakit yang sulit diobati.

 

Langkah Kecil Untuk Menjaga Hutan Indonesia dimulai dari Keluarga

Mengingat berbagai macam ancaman terhadap hutan Indonesia, berikut ini beberapa langkah kecil yang bisa kita lakukan dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga.

Mengurangi Penggunaan Kertas dan Tissue

Tau nggak sih kalau untuk produksi 1 rim kertas diperlukan 1 batang pohon yang sudah berusia 5 tahun dan 40 lembar tissue dibuat dari 1 pohon yang berusia 6 tahun? Bisa terbayangkan kalau dalam 1 bulan penggunaan kertas atau tissue kita tuh dari berapa pohon?

Setelah membaca beberapa artikel yang membahas tentang dampak penggunaan kertas dan tissue bagi hutan, aku semakin yakin untuk mengurangi pembelian kedua benda ini.

Sampai saat ini aku selalu mengajak si kecil untuk menggunakan tissue seminimal mungkin. Kalau habis cuci tangan sebisa mungkin dikeringkan menggunakan handuk atau lap saja, tidak perlu pakai tissue. Selain itu keluargaku juga memanfaatkan kertas bekas dari kantor. Kertas bekas itu biasanya digunakan si kecil untuk belajar mewarnai, menggambar dan menulis huruf. 

Kalau sudah penuh dengan coretan si kecil, kertas bekas akan berpindah ke dapur untuk dijadikan alas kompor. Semua ini kami lakukan #UntukmuBumiku

 

Tidak Meninggalkan atau Membuang Sampah Sembarangan di Hutan

Semakin banyak hutan yang dibuka untuk tempat wisata, tempat berkemah dan sebagainya seringkali membuat masalah baru yaitu sampah yang ditinggalkan. Bertanggung jawab dengan sampah yang dihasilkan saat mengunjungi hutan ini penting sekali untuk menjaga kelestarian hutan.

Jalan-jalan ke hutan tanpa meninggalkan sampah
jalan-jalan ke hutan tanpa meninggalkan sampah. dokpri

Saat aku mengajak si kecil naik ke hutan wisata yang ada di tempat nenek, biasanya kami menjadi #TeamUpforImpact dengan membawa bekal minum sendiri pakai tumbler dan meminimalisir sampah. Kalaupun ada bekas tissue yang habis digunakan buat ngelap keringat, biasanya dimasukin saku aja sampai nanti dibuang saat menemukan tempat sampah.

Tidak Memelihara Satwa Liar

harimau sumatera yang terancam punah nggak usah dipelihara di rumah. kalau pengen banget kan bisa pelihara kucing aja yang masih satu family sama harimau. dok : Annabel_P (pixabay)

Nah ini juga sangat penting, satwa liar rumahnya di hutan dan keberadaanya menjadi ekosistem keseimbangan hutan. Jadi tidak usah “aneh-aneh” memelihara satwa liar di rumah, cukup pelihara hewan yang sudah didomestifikasi saja seperti kucing, anjing dan hewan ternak. 

Berbagai artikel dan thread twitter yang ditulis oleh orang yang berkompeten di bidangnya seperti drh Purbo sudah cukup menjelaskan bahwa hewan liar punya fungsi penting dalam keseimbangan ekosistem.

 

Berdonasi

Untuk menjaga kelestarian hutan, kita juga bisa berdonasi untuk hutan. Namun donasi itu nggak dibatasi dengan uang saja lho. Sekarang dengan mendengarkan sebuah lagu juga sudah bisa berdonasi. Loh kok bisa? Ya bisa dong. 

Makannya yuk luangkan waktu untuk mendengarkan lagu yang berjudul “Dengar Alam Bernyanyi” di Spotify atau Apple Music karena royalti dari lagu tersebut akan digunakan untuk perlindungan hutan di Indonesia.

 

Hutan difungsikan sebagai tempat wisata alam
hutan difungsikan sebagai tempat wisata alam, namun harus terus dijaga kelestariannya. dokpri

Hutan Indonesia tuh sangat luas, bahkan mencapai 50,1% dari total daratan. Namun berbagai ancaman terhadap hutan terlihat sangat nyata, di depan mata kita.  Oleh karena itu diperlukan berbagai langkah kecil yang bisa kita mulai dari lingkup keluarga seperti mengurangi penggunaan tissue dan kertas, tidak meninggalkan sampah di hutan, tidak memelihara satwa liar dan meluangkan waktu untuk mendengarkan lagu #DengarAlamBernyayi di Spotify atau Apple music karena royalti lagu tersebut akan digunakan untuk menjaga kelestarian hutan Indonesia. 

Jadi yuk kita bergandengan tangan untuk menjaga hutan Indonesia dimulai dari lingkup terdekat yaitu keluarga. 

 



Referensi :

https://lindungihutan.com/blog/9-jenis-hutan-dan-ciri-hutan-di-indonesia/

https://travel.detik.com/travel-news/d-5800615/apakah-indonesia-masih-menjadi-paru-paru-dunia.

https://www.republika.co.id/berita/rfrdis485/sudah-131-kebakaran-hutan-terjadi-tahun-ini

https://waste4change.com/blog/bagaimana-sampah-memengaruhi-hutan-dan-sumber-air/

https://www.walhi.or.id/kebakaran-hutan-dan-lahan-menolak-lupa-terhadap-kejahatan-korporasi

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2014/Dampak-Penggunaan-Kertas-dan-Tisu-Bagi-Hutan/?amp

Kolaborasi Pentahelix, Langkah Strategis Untuk Atasi Kusta

Tidak ada komentar

 

Kolaborasi pentahelix merupakan langkah strategis untuk mengatasi kusta
Kolaborasi pentahelix, langkah strategis untuk mengatasi kusta. Dok : Canva

Hari kesehatan sedunia yang bertema " Hapuskan Stigma dan Diskriminasi Kusta" diperingati pada tanggal 7 April 2022, mengajak kita untuk kembali menyadari betapa pentingnya kesehatan.

Penyakit kusta memang tidak eksis di media karena gaungnya kurang terdengar. Padahal Indonesia masih menempati peringkat ke 3 di dunia sebagai penyumbang penderita kusta, dengan jumlah 17.000 kasus per tahun. Seringkali kita bahkan lupa kalau ada penyakit tropis yang bernama Kusta di lingkungan sekitar.

Selain itu, penderita kusta masih sering mengalami stigma negatif dan diskriminasi di tengah masyarakat. Oleh karena itu kita perlu melakukan kolaborasi pentahelix lintas sektor, dengan tujuan memberantas penyakit kusta sampai tuntas.

Kusta, Penyakit Menular yang Paling Tidak Menular

Penjelasan tentang penyakit kusta oleh dokter Flora Spkk
dr. Flora menjelaskan tentang penyakit kusta. 


Dikutip dari laman Alodokter Kusta disebabkan oleh bakteri yang bernama Mycrobacterium leprae. Kusta ini dapat menyerang jaringan kulit, syaraf tepi dan bahkan sampai ke jaringan pernapasan. Kusta ditandai dengan mati rasa pada tungkai dan kaki, selanjutnya akan diikuti dengan munculnya lesi pada kulit. 

Menurut Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, Sp.KK, M.Kes, Dipl-STD HIV FINSDV - Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), kusta adalah penyakit menular yang paling tidak menular. 

Artinya apa? Penularan kusta terjadi melalui kontak erat dengan penderita kusta yang belum diobati dalam jangka waktu yang lama. 

"kusta bisa menular apabila kontak erat dengan penderita kusta yang belum diobati. Ya kurang lebih kalau kontak eratnya selama 5 tahun. Kalau penderita kusta sudah berobat, tentu tidak menular", papar dr. Flora dalam pebincangannya. 

Penderita kusta pasti sembuh, syaratnya  harus sudah berobat secara tuntas ke dokter. Ketika penderita kusta mempunyai imunyang bisa merespon dengan baik, penyakit tropis ini bisa sembuh dalam waktu 6 sampai 9 bulan. Namun jika imun sudah merespon tidak baik, penderita kusta akan tetap bisa sembuh. Hanya saja waktunya lebih lama yaitu sekitar  2 tahun. Itupun dengan catatan pengobatan yang dilakukan sudah tepat, teratur dan sampai tuntas. 

Penderita kusta jika sudah minum obat, sudah tidak menjadi sumber penularan. apalagi saat ini obat untuk penderita Kusta bisa didapatkan di Puskesmas seluruh Indonesia dengan gratis. 

Selain itu, menurut dokter Flora saat ini belum ditemukan penelitian mengenai penularan penyakit kusta ke janin yang dikandung ibu hamil. 

Seperti yang sudah dituliskan diatas bahwa media kurang menyoroti tentang kusta, menurut R Wisnu Saputra, S.H., S.I.Kom - Jurnalis/Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kab. Bandung, media sudah seharusnya menekankan kepada isu-isu kesehatan terutama fokus kepada penyandang disabilitas kusta. 

Selain itu, kita sebagai masyarakat juga harus lebih hati-hati dengan banyaknya informasi yang beredar. Jangan sampai mendapatkan informasi yang salah tentang kusta, yang akhirnya mengakibatkan diskriminasi terhadap penderita kusta. 

"Masyarakat awam biasanya dapat informasi dari mulut ke mulut. Jadi harus cari info yang valid dulu sebelum sharing", ujar R. Wisnu dalam pemaparannya. 


Cara yang Dapat Kita Lakukan Untuk Mengurangi Stigma dan Diskriminasi Penderita Kusta


Diagnosis Dini dan Pengobatan yang Tepat

Setelah mengenal tentang penyakit kusta, diagnosis dini dan pengobatan yang tepat menjadi salah satu cara yang efektif untuk menanggulangi kusta. Lingkungan terdekat harus mendorong penderita kusta untuk berobat agar mendapatkan penanganan yang tepat. 

Dokter Flora juga menambahkan bahwa penyakit kusta bukan hanya ranah dokter spkk, namun kolaborasi antara dokter umum, ahli kesehatan masyarakat dan perawat. 


Kolaborasi Pentahelix Lintas Sektor

Diskusi publik KBR mengenai kolaborasi pentahelix untuk mengatasi kusta
Diperlukan kolaborasi pentahelix untuk memberantas kusta. 

Kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama dan sangat menyeluruh. Kesehatan tidak hanya meliputi kesehatan fisik, namun juga mental, sosial dan spiritual. 

Oleh karena itu diperlukan kolaborasi Pentahelix dari berbagai pihak lintas sektor. Seperti yang sudah dilakukan KBR untuk memberikan informasi yang benar tentang kusta kepada masyarakat melalui siarannya, yang menghadirkan dr. Flora dan R. Wisnu sebagai pembicara. 

Kerjasama pentahelix lintas sektor diharapkan mampu mendorong penderita kusta untuk memeriksakan diri ke tenaga medis sekaligus untuk mengurangi stigma dan diskriminasi yang terjadi di masyarakat. Contoh nyata kerjasama lintas sektor itu adalah upaya bupati Pasuruan yang membentuk program Surya Mas Jelita. Program ini dibentuk untuk mengendalikan dan mengeliminasi penyakit kusta. 

Kerjasama yang melibatkan tokoh masyarakat dan agama juga sangat dibutuhkan untuk memberantas stigma negatif bagi penderita kusta, sekaligus mengendalikan penyebaran kusta di masyarakat. 






Vaksin Covid-19 Aman, Jangan Sampai Terjebak Hoaks Kesehatan

Tidak ada komentar

 

Vaksin Covid-19 aman

Kemudahan akses informasi ternyata menimbulkan permasalahan baru di masyarakat. Salah satunya berita hoaks yang beredar melalui berbagai media. Masa pandemi Covid-19 seperti sekarang membuat permasalahan tersebut semakin rumit. Berita hoaks tentang kesehatan semakin banyak, terutama hoaks mengenai Covid-19 dan Vaksin Covid-19.

Menurut data Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sudah ditemukan 1670 hoaks terkait Covid-19 sampai bulan Juni 2021. Oleh karena itu diperlukan peran aktif bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat. 

Narasumber Webinar No Hoax :  Vaksi Aman, Hati Nyaman
Narasumber pada webinar No Hoax : Vaksin Aman, Hati Nyaman. 


Untuk memberikan edukasi dan sosialisasi vaksin kepada masyarakat, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo (DJIKP Kominfo) bekerjasama dengan Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) mengadakan webinar yang berjudul “ No Hoax : Vaksin Aman, Hati Nyaman”. Webinar dilaksanakan pada Rabu, 14 Juli 2021, diikuti oleh peserta melalui aplikasi Zoom meeting dan disiarkan lewat kanal Youtube DJIKP Kominfo.

Acara webinar tersebut menghadirkan Prof.Dr.Widodo Muktiyo (Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Kementrian Kominfo), dr.Siti Nadia Tarmizi, M.Epid.(Jubir Vaksinasi COVID-19 Kemenkes) dan Dr. Benedictus A. Simangunsong, S.IP., M.Si. (Ketua Prodi Magister Komunikas UPH). Selain itu, sambutan diberikan oleh Marsefio Sevyone Lukuhay, S.Sos., M.Si (Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UPH) dan Drs.Bambang Gunawan,M.Si. (Direktur Informasi dan Komunikasi Polhukam, Kementrian Kominfo). 

Melalui sambutannya, Bambang Gunawan berpendapat upaya pencegahan dan penanganan Covid tidak akan berhasil apalbila tidak disertai dengan dukungan masyarakat melalui gerakan 3M. Internet tidak hanya menyuguhkan informasi positif, informasi hoaks juga banyak beredar tak terkecuali hoaks tentang vaksin Covid-19. 

“Generasi milenial harus cermat dan berani mengambil sikap melawan disinformasi dan hoaks,”kata Budi Gunawan dalam sambutannya.


Keadaan Masyarakat Indonesia Saat Ini

Tangkapan layar penjelasan Prof. Dr. Widodo Muktiyo tentang Rambu-rambu Hoaks. 

Pandemi Covid-19 membuat banyak perubahan dalam berbagai bidang. Ketidak pastian global semakin tinggi dan keadaan ekonomi tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2021 masih kontraksi sebesar 0,47%. Nah setelah pandemi ternyata masih ada permasalahan besar yang menanti untuk dihadapi oleh bangsa ini yaitu resesi dan climate change

Oleh karena itu presiden memberikan arahan kepada Kominfo untuk melakukan 5 Langkah Percepat Transformasi Digital, salah satunya berisi tentang perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital dan penyediaan layanan internet.

Banyaknya informasi yang beredar di internet, membuat masyarakat bebas memilih informasi yang sesuai dengan keinginannya. Namun kondisi masyarakat yang belum memiliki literasi digital dengan baik seringkali menganggap bahwa segala sesuatu yang beredar di internet itu benar.

Informasi bohong (hoaks) banyak beredar dalam bentuk tulisan dan disalurkan melalui kanal media sosial. Tak terkecuali informasi hoaks tentang Covid-19 dan vaksin Covid-19. 

Sampai saat ini Kominfo sudah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penindakan atas banyaknya berita hoaks yang beredar seperti meningkatkan literasi digital kepada masyarakat  terkait pemanfaatan media sosial dan internet.

“Melawan pandemi Covid dari waktu ke waktu sebetulnya kita tidak perlu menyalahkan karena ini adalah kerja bareng untuk melawan bersama-sama, jangan cari benar salah,” tegas Widodo Muktiyo.


Vaksin Covid-19 Dijamin Aman oleh Kemenkes

Strategi Kemenkes menghadapi lonjakan kasus Covid
Tangkapan layar zoom webinar tentang strategi Kemenkes menghadapi lonjakan kasus Covid. 

Dalam mendukung upaya pemerintah untuk menanggulangi pandemi Covid, Kementrian Kesehatan melakukan tiga strategi untuk menghadapi lonjakan kasus Covid-19 yaitu Deteksi,Terapeutik dan Vaksin. 

“Untuk mengetahui dan memeriksakan gejala lebih dini ini penting, dan jangan lagi ada persepsi takut di COVID-kan, karena kalau kita ada persepsin itu, maka kita tidak bisa memutus rantai penularan, kita akan terus mengalami kondisi seperti ini,” Siti Nadia

Menurut pemaparan dr. Siti Nadia Tarmizi, sepanjang masa padnemi Covid, masyakarat belum konsisten melakukan perilaku pencegahan. Sementara itu tingkat pengetahuan tentang gejala Covid di Indonesia masih termasuk rendah (< 15%), paparan akses sumber informasi yang kredibel juga rendah (<30%) dan 74% sudah mengetahui tentang vaksinasi namun 8% menolak vaksinasi yang disediakan pemerintah.

Sementara itu, ketersediaan vaksin di Indonesia yang semakin banyak diharapankan masyarakat juga semakin banyak yang menerima vaksin. Untuk melaksanakan vaksinasi, Kemenkes memiliki 4 strategi pelaksanaan yaitu berbasis faskes, berbasis institusi, vaksinasi massal di tempat dan vaksinasi massal bergerak.

Siti Nadia Tarmizi juga mengatakan bahwa Vaksin Covid-19 sudah mendapatkan ijin dari BPOM sehingga dijamin aman. 


Menjadi Warga Digital yang Baik di Masa Pandemi

Tangkapan layar zoom saat pemaparan mengenai warga digital yg baik.

Kemampuan dasar literasi digital adalah berpikir kritis, yaitu kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan membandingkan pesan dari media dengan sumber lainnya—De Abreu, 2011

Menghadapi masa pandemi Covid-19 yang serba sulit, ditambah dengan banyaknya berita hoaks yang beredar di media sosial terasa sangat menjengkelkan. Apalagi berita hoaks yang diserbarkan melalui broadcast message dalam grup whatsapp tanpa di cek dulu kebenarannya sering membuat gaduh. 

Hasil survey Program for Internasional Student Assesment yang dirilis OECD 2019 yang menempatkan literasi masyarakat Indonesia ada di ranking 62 dari 70 negara. 

Era post truth menyuguhkan dimana kebohongan bisa menjadi dipercaya tanpa memandang fakta. Dengan keadaan literasi yang rendah, berita hoaks tersebut akan mudah menyebar seperti spora di musim hujan. 

“ Kita masuk ke era yang namanya post truth, bahwa kebohongan yang diulang terus menerus, itu akan dianggap sebagai kebenaran. Ini yang kemudian menjadikan teknologi atau media menjadi alat yang sangat kuat untuk mempengaruhi orang lain,” ungkap Benedictus Simangunsong.

Beberapa hal yang tidak disadari saat menggunakan media adalah manipulasi informasi yang dapat mempengaruhi orang lain, termasuk manipulasi informasi vaksin Covid. 

Oleh karena itu diperlukan kolaborasi berbagai pihak untuk melawan infodemik dan memperkuat literasi digital antar komunitas/ individu. Penguatan literasi digital dapat dimulai dari lingkup terkecil seperti keluarga.

“karena semakin tinggi tingkat literasi seseorang, semakin mampu melihat berbagai macam dimensi dari konten yang diterima dan sebaliknya semakin rendah tingkat literas, semakin tidak mampu melihat berbagai macam dimensi dan konten yang diterimanya,” pungkas Benedictus dalam pemaparannya. 




Jogja Yang Hilang : Menyingkap Jejak Pabrik Gula di Jogja

Tidak ada komentar


Gula yang mudah kita temukan dimana saja, ternyata punya sejarah yang sangat panjang namun dengan bukti minim. Sebuah pameran foto Suikerkultuur Jogja Yang Hilang dua tahun lalu, mampu memberikan gambaran tentang sejarah industri gula beserta bukti-bukti peninggalannya yang masih tersisa di Yogyakarta. Selanjutnya, Bentara Budaya Yogyakarta juga menyusun buku yang berjudul sama : Jogja Yang Hilang.


Gudeg, salah satu kuliner yang wajib dicoba saat main ke Jogja.
Dok : gudeg.net


Sudah pernah mencicipi kuliner dari Jogja seperti gudeg? Kalau udah pernah,  pasti nggak asing banget dengan cita rasa manis yang dominan.

Waktu pertama kali tinggal di Jogja, aku sempat kaget dengan cita rasa kulinernya yang cenderung manis. Lha wong sambel aja ada manis-manisnya kok. 😅

Bagaimanapun juga sepertinya manisnya gula tidak bisa terpisahkan dari (sebagian besar) kuliner Jogja. Yup, gula yang ada di meja kita ternyata punya sejarah yang sangat panjang. Namun sayangnya bukti-bukti sejarahnya minim. Seperti bangunan fisik bekas pabrik gula banyak yang sudah rata dengan tanah.

Ibu selalu bilang pokoknya pakai gula itu hukumnya wajib dalam setiap masakan, ben mantep! 😂

Pameran Foto : Jogja Yang Hilang

Suasana pameran foto Jogja yang Hilang.
Dokpri

Adalah sebuah pameran foto bertema "Jogja Yang Hilang" dua tahun lalu. Pameran foto ini mampu memberikan gambaran tentang sejarah industri gula, beserta bukti-bukti peninggalannya yang masih tersisa di Jogja. 

Pameran foto yang diinisiasi oleh Pak Hermanu, seorang kurator Bentara Budaya Yogyakarta ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kepada generasi muda tentang kejayaan masa lalu pabrik gula di Yogyakarta yang hampir semuanya sudah rata dengan tanah. 

buku Twentieth Century Impression of 
Netherlands Indie,
sumber foto lawas pabrik gula.
Dokpri


Beliau mendapatkan dorongan kuat untuk memamerkan foto-foto lawas pabrik gula setelah melihat buku berjudul Twentieth Century Impression of Netherlands Indie  yang terbit pada tahun 1909. Dalam pelaksanaanya, beliau menggandeng komunitas Roemah Toea untuk mendokumentasikan keadaan terkini peninggalan pabrik gula yang masih tersisa di Jogja.

Museum Dirgantara Mandala eks PG Wonotjatoer.
Dokpri


Saat ini bangunan pabrik gula yang masih dimanfaatkan adalah eks PG Wonocatur, yang diubah menjadi museum Dirgantara Mandala. 

Sejarah Panjang Industi Gula di Jawa

Jogja punya banyak peninggalan dari masa Hindu-Buddha, yang berarti dari peninggalan-peninggalan tersebut kita dapat mengetahui sejarah panjang industri gula. Sebenarnya belum tepat kalau disebut industri, lebih tepatnya disebut produksi gula rumahan.

Produksi gula rumahan yang dikelola oleh rakyat ini kemudian dilirik oleh bangsa belanda, tepatnya saat Cornelis de Houtman menginjakkan kaki di pulau Jawa pada abad ke 17. Kemudian setelah VOC menancapkan kukunya di pulau Jawa, industri gula mulai dilirik. Bisa jadi hal tersebut merupakan awal dari industri gula di pulau Jawa yang kemudian mencapai puncaknya dengan produksi 2.000.000 ton dari 179 pabrik gula di pulau Jawa.

Nah untuk wilayah Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta) terdapat banyak pabrik gula besar yang beroperasi. Pada tahun 1921 terdapat 17 pabrik gula di Jogja dan 13 pabrik gula di Surakarta. Bahkan beberapa tahun kemudian jumlah pabrik gula di Jogja bertambah menjadi 19. Jadi tidak salah jika saat itu Jogja dijuluki sebagai Land of Sugar. Mulai dari sebelah barat ada PG Sewugalur, kemudian di selatan ada PG Pundong, di utara ada PG Medari dan di sebelah timur ada PG Randugunting.

Buku Suikerkultuur Jogja Yang Hilang

buku Jogja yang Hilang
karya Bentara Budaya Yogyakarta.
Dokpri

Setelah selesai dengan event pameran, Bentara Budaya Yogyakarta juga menyusun buku yang berjudul sama. Dalam buku ini dibahas perkembangan industri gula di pulau Jawa terutama di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu sejarah selalu berprinsip no data no history. Dalam buku ini disajikan data, foto lawas, dan foto terkini dari 19 pabrik gula yang pernah berdiri di Jogja.

Foto before after pabrik gula ada di dalam buku ini.
Dokpri


Tidak hanya membahas naik turunnya pamor pabrik gula, buku ini juga menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan pabrik gula. Seperti bagaimana pengaruh keberadaan pabrik gula kepada masyarakat sekitar, pengaruh biro teknis E.Rombout pada pabrik gula di Jawa, para raja gula di Yogyakarta, kehancuran pabrik gula, masa pendudukan Jepang dan terakhir kesaksian Elvire Jenny Vernez, seorang survivor dari kamp internir eks pabrik gula Sewugalur.

Cerita tentang survivor kamp eks pabrik gula juga ada di dalam buku ini.
Dokpri


Masih penasaran? Yuk baca buku Jogja yang Hilang sampai tuntas. 

Sejarah Tidak Bisa Diceritakan Kepada Anak Cucu Tanpa Bukti Tertulis


Di dalam buku disajikan foto pabrik gula Sewugalur dulu dan sekarang.
Dokpri

Aku pernah blusukan ke kelurahan Karangsewu di Galur, Kulon Progo. Disana ada daerah yang dikenal dengan nama Mbabrik. Saat bercakap-cakap dengan warga, mereka mengaku tidak tau bahwa di Mbabrik dulunya berdiri pabrik gula bernama PG Sewoe Galoer.

Sebuah missing link sejarah seperti ini sering ditemui di masyarakat kita. Entah karena tidak adanya bukti tertulis atau sesepuh desanya sudah meninggal tanpa sempat bercerita mengenai asal usul daerah tersebut. 

Oleh karena itu aku sangat mengapresiasi Bentara Budaya yang akhirnya meluncurkan buku berjudul Jogja Yang Hilang sebagai upaya untuk meninggalkan jejak tertulis yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.  

Bagaimanapun juga pabrik-pabrik gula yang pernah berdiri di Yogyakarta ini memiliki kontribusi penting dan tidak dapat dihilangkan dari sejarah perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejarah yang dituliskan tidak akan hilang ditelan oleh jaman, kecuali memang sengaja dihilangkan demi kepentingan tertentu.