Hal-Hal Yang Dilakukan Saat Hari Libur

Salah satu Kelas Heritage yang aku ikuti bersama teman-teman Kompasianer Jogja dalam pameran foto suikerkultuur Jogja Yang Hilang, dipandu oleh Komunitas Roemah Toea di Bentara Budaya Yogyakarta. Dokpri

Saat masih single, biasanya aku bisa bermalas-malasan di hari libur. Tetapi ketika sudah menikah dan mempunyai
seorang putri, hari libur akan diisi dengan berbagai hal yang menarik di luar aktifitas harian yang kadang terasa sangat membosankan. Aku sendiri adalah type orang yang gampang bosan dengan aktifitas sehari-hari, jadi hari libur merupakan sebuah pelarian dari rasa bosan tersebut. 

Jadi apa aja yang biasanya aku lakukan di hari libur? 
1. Memasak 
Sebenarnya aku juga hampir setiap hari memasak, kecuali kalau sedang merasa terlalu lelah maka beli masakan matang adalah solusinya. Tetapi memasak di hari libur adalah sesuatu yang berbeda. Aku biasanya pengen coba-coba bikin masakan dengan menu baru. Suami akan mengantarku berbelanja ke pasar di pagi hari. Kemudian saat aku mulai memasak, suami akan menjaga putri kami. Aku bukan type orang yang bisa dibantu dalam memasak, karena akan terasa lebih lama selesainya jika dibantu.

2. Mengunjungi Museum.
Mengunjungi museum adalah hal yang menarik, banyak sekali pengetahuan yang bisa didapatkan di dalam sebuah museum. Tetapi masyarakat Indonesia pada umumnya masih menganggap museum itu hanya menyimpan benda-benda kuno dan mistik. Aku tidak mau hal itu menyebar di dalam keluarga kecilku dan beruntungnya suami mendukung salah satu programku yaitu mengunjungi museum. Kami berusaha mengenalkan museum kepada putri kami yang masih batita. Bahkan kami pernah mengajaknya ke museum benteng Vredeburg saat usianya belum genap 1 tahun. Museum-museum yang berisi budaya jawa dan  perjuangan bangsa masuk ke dalam daftar list utamaku saat ini.
Kenapa? Ya agar putriku nantinya tidak melupakan identitasnya sebagai warga negara Indonesia khususnya orang jawa dan tidak melupakan sejarah panjang perjuangan bangsa hingga bisa berdiri di tahan merdeka ini. 

3. Mengikuti kelas heritage. Semakin banyaknya gempuran budaya asing ke dalam negeri membuatku selalu ingin mengikuti kelas heritage yang ada di sekitar Yogyakarta.
Kenapa? Karena jika tidak mengetahui akar sejarah bangsa melalui kelas heritage, sebagai seorang ibu aku merasa kurang amunisi untuk menahan gempuran budaya asing yang akan terjadi di masa depan.
Kalau tidak punya amunisi, bagaimana kelak mendidik anakku nanti? 

4. Ke rumah nenek-kakek biasanya kami lakukan di hari libur. 

5. Jalan-jalan dan kulineran. Saat ada rejeki lebih dan saat hari libur, biasanya keluarga kecilku memutuskan jalan-jalan sambil kulineran. Seperti jalan-jalan ke kota Solo yang bagi kami adalah mengunjungi saudara tua. Biasanya kami memilih menggunakan kereta prameks untuk menuju kota Solo karena harganya yang terjangkau. Setelah lelah berjalan-jalan dan perut lapar, kami akan kulineran. Salah satu tempat favoritku adalah Timlo Sastro di belakang Pasar Gedhe. 
Tetapi saat budget minim, kami akan kulineran di sekitar Kotagede, Yogyakarta karena tidak jauh dari rumah. Menelusuri gang-gang Kotagede yang seperti labirin dan mengunjungi beberapa tempat kuliner favorit ternyata sangat menyenangkan. Walaupun aku merasa deg-degan kalau menemui jalan buntu dan tidak bisa keluar dari gang 😂. Kalau mbak Leni di hari libur biasanya ngapain aja ya?

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Posting Komentar

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga