Hal-hal yang Ingin Aku Lakukan di Tahun 2019

Copyright : networkworld.com

Tidak terasa sudah memasuki bulan Desember yang ada di penghujung tahun 2018. Bunga-bunga desember yang ditanam oleh ibu sudah mulai mekar dengan siraman air hujan hampir setiap hari. Masih ada beberapa hal yang belum bisa aku lakukan di tahun 2018 sementara tahun 2019 tinggal menghitung hari.

Ada beberapa hal yang ingin aku lakukan di tahun 2019, yaitu :

1. Kembali sejenak ke Bandung. 
Ada beberapa hal yang ingin aku selesaikan disana terutama meminta maaf kepada seorang tetangga di samping rumah lama dan mencari kucing kami yang bernama Owi. Aku menyesal dulu tidak membawa Owi sekaligus ke Jogja karena tidak ada biaya. Aku ingin sekali membawanya pulang di tahun 2019 nanti.

2. Sterilkan kucing liar di sekitar rumah.
Populasi kucing di sekitar rumahku sudah mulai banyak lagi. Tetapi tidak banyak yang peduli dengan mereka. Jika over populasi akan dibuang entah kemana oleh tim sweeping kucing.
Seperti para kucing liar yang dulu sering numpang makan di rumahku, waktu aku tinggal mudik selama 4 hari mereka entah dibuang kemana. Padahal makan dan minum sudah aku sediakan untuk para kucing di teras.
Tahun 2019 aku berharap ada rejeki lebih, agar aku bisa mensterilkan kucing-kucing liar di sekitar rumah.

3. Renovasi garasi rumah. Garasi rumahku bocor karena dulu pemasangan atapnya terburu-buru.

4. Membelikan wastafel cuci piring untuk Nenek agar beliau tidak kerepotan membawa piring kotor ke kamar mandi. Tahun 2019 nenek akan memasuki usia 80 tahun dan beliau masih sanggup melakukan pekerjaan rumah tanpa dibantu asisten rumah tangga.

5. Menjelajahi Kulon Progo terutama tempat-tempat bersejarahnya dan menuliskannya dalam artikel untuk digitalisasi manuskrip. Aku lahir di Kulon Progo, rasanya tidak lengkap jika aku tidak mengetahui sejarah tanah kelahiranku.
Aku juga ingin membagikan hasil jelajah heritageku dalam sebuah artikel kepada publik terutama publik Kulon Progo. Kenapa? Ya agar warga Kulon Progo tidak lupa dengan asal usul dan sejarahnya.
Kulon Progo sebelum tahun 1951 merupakan wilayah milik 2 kerajaan yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Sekarang yang menjadi bandara adalah tanah milik Pakualaman bukan Sultan Ground, jadi kalau ada yang demo-demo bilang Sultan bla bla bla itu tanah Sultan dan lain-lain ya aku cuma mau ngakak aja sih 🤣
Tanpa tau sejarah kok waton jeplak!
Apalagi tahun 2019 Kulon Progo merupakan gerbang internasional bagi para wisatawan. Jika generasi mudanya tidak peduli dengan sejarah, lama-lama sejarah Kulon Progo akan hilang tertelan zaman tanpa di digitalisasi.
Kalau mbak Dian tertarik menjelajahi Kulon Progo yuk bareng aku juga boleh 😁

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Posting Komentar

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga