Berdamai Dengan Penyesalan

Copyright : Tiny Buddha

Menatap layar, mengetik satu dua kata lalu dihapus lagi. Tema kali ini sukses menguras isi otak dengan cara membuatku flashback ke masa lalu. Namanya juga kehidupan, pasti ada berbagai peristiwa yang berisi penyesalan.

1. Menyesal bersekolah di SMA.

Ah masa itu adalah masa-masa dimana sesuatu yang terjadi menjadi sebuah tembok penghalang bagiku. Tembok itu memang sengaja aku bangun sendiri, agar tidak ada intervensi dari siapapun atau bahkan agresi militer dari pihak manapun.

Keputusan melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP tidak pernah aku dapatkan, tetapi keluarga tempatku menumpanglah yang menentukan. Saat itu memang posisiku serba tidak enak, aku menumpang di tempat nenek, orang tuaku tidak punya wewenang apapun untuk memutuskan dimana aku bersekolah dan aku mendapatkan intervensi tingkat tinggi untuk melanjutkan sekolah. Aku menyesal tidak memaksakan diri melajutkan ke SMK, padahal saat itu nilaiku bisa masuk SMK.

Semenjak itu sebagai bentuk protes, aku tidak pernah serius belajar. Bahkan lebih suka membangun tembok dengan cara menenggelamkan diri di perpustakaan dan membatasi diri dalam berteman.

Ditambah saat akan duduk di kelas 2 SMA, aku tidak diberi pilihan oleh sekolah mengenai jurusan. Aku masuk ke kelas ilmu pengetahuan alam, padahal aku tidak suka. Jadi sampai sekarang aku nggak pernah ngerasain manfaatnya ngapalin tabel periodik yang isinya Aurum, Ferrum dll.

Apalagi drama sebelum aku lulus SMA juga membuatku semakin ingin cepat-cepat meninggalkan SMA tersebut. Jadi targetku saat itu yang penting lulus, nilai bahasa inggris bagus, nilai yang lainnya aku tidak peduli.

Bahkan kalau bisa sampai sekarang, aku ingin menghapus memoriku saat SMA. Kalau hapus file di memori handphone kan gampang tinggal tekan delete, tetapi menghapus file di otak kan susah. Semenjak lulus SMA sampai sekarang, aku hanya pernah berkunjung ke bekas sekolahku tersebut satu kali saja untuk legalisir ijasah.

Suatu saat aku pernah bermimpi detik-detik menuju kelulusan SMA, dan disana aku merasa lelah dengan semuanya sehingga ketika terbangun aku menangis. Seiring dengan kesadaran yang sudah kembali ke level 100%, aku baru sadar bahwa aku kan sudah melewati hal itu beberapa tahun yang lalu. Kenapa masih takut sampai menangis segala? 😂 Ah mimpi yang menakutkan.

2. Meninggalkan Teman Dekatku Semasa SD
Banjir yang melanda wilayah Dayeuhkolot-Baleendah-Bojongsoang di tahun 2004 membuatku pindah sekolah ke Kulon Progo. Saat itu komunikasi tidak semudah jaman now dan kepindahanku  tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa sempat berpamitan kepada seorang teman dekatku bernama Silvia.

Hanya dia yang menemaniku saat aku dibully dengan kata-kata "Niken itu Belanda" oleh teman-teman satu kelas.
Sampai saat ini aku masih berusaha mencari jejak Silvia.

Kabar terakhir yang aku dengar dari ibu adalah rumah Silvia sudah pindah, jadi aku belum bertemu Silvia sampai sekarang. Searching di internet juga susah karena SD Pasawahan X tempat kami bersekolah sudah dilebur dengan SD Pasawahan II. Semoga suatu saat aku dipertemukan dengan Silvia.

3. Salah Pilih Jurusan Saat Kuliah. 

Aku pernah berkuliah di jurusan akuntansi di sebuah kampus swasta. Jurusan ini aku pilih karena banyak yang bilang bahwa akuntansi memiliki 2 mata pisau untuk digunakan di dunia kerja.

Kenyataan yang aku dapatkan selama berkuliah adalah nilai-nilai manajemenku lebih bagus daripada akuntansi. Mungkin seharusnya aku dulu ambil jurusan manajemen seperti mbak Riana saja ya. 😁
Tetapi aku tidak memutuskan untuk pindah jurusan karena akan ada beberapa nilai mata kuliah yang tidak diakui di jurusan manajemen. Jadi ya sudah dijalani aja kuliahnya sampai selesai sambil bekerja partime.

Sampai saatnya mendekati wisuda dengan penuh kebimbangan karena IPK jeblok, aku menemui pak Tri Hendro (seorang dosen  inspiratif bagiku).
Beliau berkata, " udah nggak apa-apa ikut wisuda saja mbak Niken. Duniamu bukan disini, nggak usah lama-lama disini".

Sejak saat itu aku tidak menggunakan gelarku untuk mencari seonggok berlian 😂. Aku memilih mencari duniaku sendiri, dunia yang jauh dari hiruk pikuk akuntansi 😂.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, mungkin aku akan memilih jurusan sejarah atau arkeologi saja. 😋

Sejujurnya sampai aku menuliskan ini, aku masih berusaha berdamai dengan diri sendiri agar penyesalan-penyesalan ini tidak lagi mengganggu kehidupanku.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Posting Komentar

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga