Selasa, 19 April 2016

Vastenburg, Riwayatmu Kini


Solo, kota kecil di provinsi Jawa Tengah yang terkenal akan batiknya ini memang menarik untuk dikunjungi. Sebenarya bukan hanya batik yang menarik dari kota ini, kuliner di Solo pun bermacam-macam, budaya di kota ini masih dipelihara dengan baik. Kali ini saya tidak akan membahas batik ataupun kuliner karena saya tertarik ke kota ini setelah melihat liputan di salah satu televisi swasta tentang sebuah benteng yang letaknya dekat dengan kantor walikota tetapi sempat terbengkalai selama puluhan tahun. Sebelumnya saya sempat berpikir bahwa benteng ini diperlakukan sama seperti Vredeburg di kota tempat saya tinggal selama berkuliah yaitu Yogyakarta.

Pagi-pagi saya bersama seorang teman menuju benteng ini menggunakan kereta prambanan ekspres dari stasiun maguwo, harga tiket per orang Rp 8000 dan menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Kemudian sesampainya di stasiun Purwosari kami melanjutkan naik bus solo batik seharga Rp 4500 menuju benteng. Ya kali ini tujuan utama saya adalah benteng ini karena saya sangat penasaran dengan bangunan peninggalan kolonial apalagi yang terbengkalai. Untungnya ketika sampai di benteng ini, keadaan benteng sudah ditetapkan sebagai cagar budaya jadi beberapa wajah benteng sudah di cat ulang. Lega melihat benteng ini dengan wajah barunya yang menjadi lebih “sumringah” untuk dipandang dengan cat putih bersihnya.


Vastenburg nama benteng yang merupakan saksi bisu sejarah ini dibangun di masa kolonial belanda, yaitu pada tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff di kawasan Gladak, Surakarta atau Solo. Sama seperti benteng Vredeburg, beteng Vastenburg juga digunakan untuk mengawasi keraton Surakarta Hadiningrat karena memang letak benteng ini tidak jauh dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Sebenarnya ada 3 benteng di pulau jawa ini yang sejajar apabila ditarik garis lurus, yaitu mulai dari timur adalah benteng Vastenburg, lanjut ke barat ada benteng Vredeburg dan yang paling barat adalah si Benteng Merah Van Der Wijk.

Benteng ini juga pernah digunakan sebagai markas TNI setelah kemerdekaan republik Indonesia  untuk mempertahankan kemerdekaan. Selain itu benteng ini juga pernah digunakan sebagai tempat pelatihan dan pusat Brigade Infanteri 6 untuk wilayah karisidenan Surakarta dan sekitarnya. Benteng ini sempat mangkrak sejak tahun 1980-an sampai ketika ada desas desus benteng akan dihancurkan untuk pembangunan pusat perbelanjaan, pemkot Solo mengambil alih dan diperjuangkan menjadi salah satu cagar budaya yang tidak boleh dihancurkan mengingat benteng ini adalah saksi bisu sejarah. Ya kali ini saya benar-benar berterimakasih kepada bapak Ir.H Joko Widodo dan jajaran pemkot Solo atas kemenangan memperjuangkan Vastenburg sebagai cagar budaya. Menurut UU no 11 tahun 2010 cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan atau air yang perlu dilesatrikan keberadaanya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengentahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan melalui proses penetapan. Nah Vastenburg sendiri merupakan bangunan cagar budaya yang memiliki peran penting bagi sejarah.

Oh iya sekedar info aja benteng ini dibuka untuk umum ketika ada acara-acara tertentu, tetapi selebihnya akan ditutup, berbeda dengan saudaranya yaitu Vredeburg yang memang sudah dibuka untuk umum. Jadi waktu saya kesana, saya hanya bisa berkunjung di depan benteng, tidak bisa masuk ke dalam benteng Vastenburg.


Memasuki pelataran Vasteburg berupa jalan tanah, ada beberapa bagian yang masih terlihat bekas jalan berbata merah yang pada masanya pasti lebih bagus dari sekarang. Pelataran Vastenburg sekarang sering digunakan untuk parkir mobil. Di depan benteng terdapat dua patung kerbau di sisi kanan dan kiri serta patung arca, ya benteng ini pun dalam pembuatannya tidak meninggalkan simbol kebudayaan masyarakat Surakarta. Ada parit yang mengelilingi benteng tetapi saya hanya melihat yang bagian depan saja. Bentuk benteng ini berupa persegi dimana ujung-ujungnya terdapat bastion. Pintu benteng terkunci saat itu karena memang tidak ada acara yang diselenggarakan ketika saya mendatangi benteng Vastenburg. Saya dapat melihat bahwa di tengah benteng tedapat lapangan yang mungkin dulunya digunakan untuk apel para serdadu belanda yang berada disitu.  Saya juga melihat ada tembok yang batu batanya terlihat dan belum diperbaiki.  Kami lalu saling mengambil foto di depan benteng Vastenburg bergantian. Saya mengagumi Vastenburg dan membayangkan masa jayanya saat masih digunakan oleh kolonial untuk mengawasi keraton Surakarta Hadiningrat. Vastenburg, saya pasti kembali untuk sekedar mengunjungimu, semoga terus berdiri kokoh sebagai saksi bisu sejarah bangsa kami.

Para Kucing Ibu yang (Mungkin) Sudah di Surga

Salah satu kucing ibu yang meninggal karena tulang tengkoraknya bonyok.  Dokpri Hidupku rasanya tidak pernah jauh dari hewan berbul...