Sabtu, 12 Januari 2019

Para Kucing Ibu yang (Mungkin) Sudah di Surga

Salah satu kucing ibu yang meninggal karena tulang tengkoraknya bonyok.
 Dokpri



Hidupku rasanya tidak pernah jauh dari hewan berbulu yang sangat lucu ini. Kata ibu, sejak aku di dalam kandungan memang ada seekor kucing yang setiap hari suka tidur di perut ibu. Jadi mungkin perkenalanku sama hewan lucu ini sudah lama sekali 😆. 

Di usia 4 tahun lebih sedikit, aku ikut ibu ke Bandung dan ternyata ibu juga memelihara seekor kucing betina belang abu yang diberi nama Manis. Sayangnya si Manis ini tidak tahu pergi kemana saat kami pindah rumah. Ya edukasi tentang steril kucing belum sampai ke telinga keluargaku saat itu, taunya ya pelihara kucing itu yang penting dikasih makan, diajarin toilet training dan diajarin nggak nyolek burung puter milik keluarga karena bapak pasti akan marah besar. 

Di rumah baru, kami juga diberi seekor kucing kecil (kitten) oleh tetangga tetapi tidak lama kemudian meninggal. Dikarenakan banyak tikus yang berkeliaran, ibu berinisiatif menangkap kucing liar untuk dipelihara. Aku masih ingat saat ibu menangkap kucing berwarna kuning sampai jari tangannya berdarah-darah. Kucing kuning berekor bundel itu akhirnya kami beri nama Manis. Setelah ditraining selama seminggu tanpa keluar rumah, si Manis pun akhirnya diijinkan keluar rumah dan sudah tau siapa pemiliknya serta rumah tempat dia pulang. Tetapi Tuhan lebih sayang kepada si Manis sehingga memanggilnya pulang lebih cepat. Seolah merasa akan segera dipanggil, si Manis membawa saudaranya (entah saudara kandung beda ayah atau adiknya) ke rumah kami. Kucing putih kuning yang dibawa si Manis ini tidak lama kemudian menggantikan posisi si Manis sebagai salah satu penghuni rumah kami. Jangan tanyakan dimana si Manis meninggal karena saat sekarat pun dia sudah pergi entah kemana. 

Ibu juga sama seperti aku, sering ngajakin ngobrol kucing-kucingnya termasuk kepada kucing kuning-putih pengganti si Manis. Setelah diselidiki ternyata si kucing ini berjenis kelamin jantan tetapi wajahnya cantik mirip kucing betina makannya sering dikejar-kejar garong penunggu desa. Kucing kuning-putih yang sering dipanggil kakek ini hidup sejak tahun 1998-2010. Rupanya si kakek panjang umur dan setia menemani keluarga kami walaupun sudah berkali-kali kami menyangka dia meninggal karena banjir besar. Ya rumah yang kami tempati memang letaknya tidak jauh dari sungai Citarum dan banjir itu sudah menjadi langganan setiap tahun sejak 2004. Entah bagaimana si Kakek selalu survive, tapi pernah suatu saat setelah banjir adikku berkata mungkin si kakek meninggal. Eh tidak lama kemudian muncullah dia dengan keempat kakinya penuh lumpur masuk ke dalam rumah yang habis di pel. Hasilnya ya si kakek dimarahin ibu 😂. 

Tahun 2010 ibu mulai cerita bahwa si kakek sudah tidak mau makan banyak, makan juga pilih yang empuk seperti daging ayam rebus bukan ayam goreng dan tubuhnya mulai kurus. Dari jauh aku selalu berdoa semoga si kakek masih tetap hidup sampai aku selesai kuliah. Tapi si kakek lebih dulu pulang ke pangkuan Tuhan tidak lama setelah ibu bercerita tentangnya. Kira-kira di usia 12tahunnya manusia, si kakek pulang tanpa ingin kami tahu jasadnya dimana. Kucing-kucing kami berpulang ke pangkuan sang Pencipta tanpa meninggalkan jejak. 

Setelah ditinggalkan oleh si Kakek, ibu dan adik-adikku mulai mencari kitten untuk dipelihara. Iya memelihara kucing sejak kitten lebih gampang dididik daripada memelihara kucing dewasa (aku juga mengalaminya). Sepulang sekolah adikku menemukan kitten kecil berwarna abu-abu di dekat selokan yang akhirnya dibawa pulang. Tetapi selang 3 bulan si kitten meninggal karena tengkorak kepalanya bonyok entah kenapa.

Setelah itu nini Uho (tetangga kami) memberi seekor kitten yang tersesat di dalam rumahnya untuk dipelihara. Usianya mungkin baru satu bulan, saat awal dipelihara ibu bercerita dia hanya mau minum susu dan makan remahan biskuit bahkan badannya dipenuhi jamur dan dia selalu nyaman di dalam kardus.  Sekali waktu aku pulang ke rumah, aku mandikan kitten dengan shampoo anti jamur. Saat dijemur bersama kardusnya, ibu mengira bahwa dia mati. Padahal dia hanya tiduran di lap dalam kardus. Sesekali waktu ku lihat kitten itu ngenyot kain lap yang dikira nenen induknya. Seluruh hatiku rasanya teriris melihat keadaan si kitten, sampai akhirnya memberanikan diri mengoles jamurnya dengan salep. "Kamu harus sembuh!", Kataku di dekat telinga si kitten yang akhirnya diberi nama Owi. Dengan nama tersebut harapan kami adalah dia bisa sehat seperti kucingku yang bermana Snowy. Di tengah pengobatan jamurnya, ibu yang setiap hari melihat keadaan Owi sampai hopeless dan berkata, "Owi kalau mau pulang nggak apa-apa, ibu ikhlas. Tapi kalau masih mau sama ibu, ya cepetan sehat!". 
Kira-kira seperti ini penampakan Owi waktu masih kitten. Tidak ada foto Owi di smartphoneku tapi kami tetap akan mengenangnya. Copyright : shiq4.wordpress.com


Aku yakin dukungan dari keluarga membuat Owi akhirnya mulai nafsu makan dan 3 bulan kemudian udah gendut. Lincah bermain kesana-kesini, suka nangkap tikus dan tidak ada yang menyangka bahwa ini Owi yang dulu jamuran mirip tikus got.
Semakin besar semakin cantik si Owi ini, tapi galak sih. Aku pernah mau gendong Owi tapi malah dicakar. Galaknya itu 11 12 sama Snowy deh. Dielus aja marah-marah dia. Tapi kalau setianya luar biasa, ibu mau berangkat jualan aja dianterin sampai depan gang. Bahkan kalau tidak disuruh pulang, dia bakalan nganter sampai warung. Riskan banget ketabrak kan karena jalan desa juga ramai kalau pagi-pagi. 

Sayangnya, prahara yang terjadi di dalam keluarga kami membuat Owi kena imbasnya. Setelah rumah itu kosong, aku sempat mendengar kabar bahwa Owi sering numpang makan di rumahnya Aa Cepi. Istri Aa Cepi memang sayang sama Owi tapi aku tidak tahu apakah Owi dipelihara atau cuma numpang makan. Sampai sekarang aku menyesal kenapa saat itu tidak membawa Owi sekalian ke Jogja. Setiap ada berita banjir di Bandung Selatan, yang terpikirkan adalah Owi bukan rumah itu lagi. Maafkan kami Owi, semoga Owi selalu di genggam erat oleh tangan-tangan Tuhan yang bekerja di bumi. 

Owi yang galak banget, aku masih selalu ingat bahwa warna kuningmu hanya ada di telinga dan ekor saja. Taringmu yang satu tinggal setengah dan kalau makan tergesa-gesa. Aku disini juga selalu berusaha mengenang Owi dengan memberi makan kucing-kucing liar yang sering main ke rumah walaupun itu tidak bisa menghapus rasa bersalahku kepada Owi.

Selasa, 08 Januari 2019

Skincare Untuk Bayi? Mustela Aja


Produk Mustela yang dicoba di rumah. Dokpri

Menjadi seorang newbie mommy di jaman sekarang memang harus pintar mencari informasi, apalagi yang berkaitan dengan buah hatinya. 
Setelah melahirkan di tahun 2017, banyak hal baru yang terjadi di kehidupanku terutama tentang buah hatiku. Aku pernah sangat panik ketika bayiku yang belum genap berusia satu bulan mengalami semacam jerawat di mukanya. Kepanikan mendorongku menemui bidan yang tempat prakteknya tidak jauh dari rumah. Bidan kemudian menyarankan untuk memberikan lotion hypoallergenic pada kulit bayi yang berjerawat. Jika tidak hilang dalam 1 minggu, maka bidan akan memberikan salep. Selang satu minggu sejenis jerawat yang muncul di wajah dan badan bayiku mulai mengering sampai lama-lama hilang dengan sendirinya. 

Dari kejadian tersebut, aku berpikir bahwa jenis kulit bayi itu sangat sensitif. Rasa penasaran semakin memuncak saat mom blogger community memberi tawaran untuk mengikuti talkshow Mustela. "Wah pas banget untuk nambah pengetahuan tentang kulit bayi", kataku dalam hati.

Sebelum hari H, aku menyempatkan diri mencari tau tentang brand Mustela karena benar-benar masih asing di telingaku. Dulu aku mengira bahwa orang dewasa saja yang membutuhkan skincare, dari hasil kepo ke website mustela ternyata bayi juga membutuhkan skincare. Waduh selama ini aku kemana aja kok sampai nggak tahu ya? Sebuah penyesalan terucap di dalam hati sambil mengelus dada.

Acara Talkshow
Acara Talkshow Mustela dengan tema cara mengenal jenis kulit bayi & anak. Dok : Amalia Sarah

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang yaitu tanggal 22 Desember 2018 bertepatan dengan hari ibu. Talkshow dengan tema cara mengenali jenis kulit pada bayi & anak, diadakan di lantai 3 Vinolia Baby & Kids Yogyakarta. Acara yang dimulai pukul 13.30 ini menghadirkan pembicara dr.Intan Diana Sari ( head of medical PT Interbat) dan Mohamad Nurhadi (Brand Manager Mustela Indonesia).

Menurut dr.Intan ada fakta-fakta yang perlu diketahui oleh kita semua mengenai kulit bayi yaitu lapisan pelindung kulit bayi belum terbentuk sempurna, kulit bayi cenderung kering, stem cell kulit sangat tinggi tetapi cenderung menurun drastis di usia 0-2 tahun karena faktor luar dan bayi terlahir dengan jenis kulit yang berbeda.
Perbedaan jenis kulit bayi tersebut kemudian di bagi 3 jenis agar lebih mudah diketahui oleh orang tua.

Pertama kulit normal pada bayi ditandai dengan kulitnya bersih, terasa lembab dan lembut saat disentuh.
Kedua kulit kering pada bayi memiliki ciri-ciri kulit bayi cenderung kasar, bersisik bahkan sampai mengelupas.
Kalau jenis kulit yang terakhir adalah kulit atopik (eksim)  dengan ciri-ciri  sangat kering dan kadang ada ruam merah pada kulit serta terasa gatal. Dari pemaparan tersebut, aku menyimpulkan bahwa bayiku memiliki jenis kulit normal. Jadi, #Apajeniskulitbayimu ?

Siapa sih Mustela?

Sebelum mengenal rangkaian produk mustela untuk si kecil, yuk kenalan dulu sama perusahaan ini dan sepak terjangnya supaya lebih percaya. Mustela merupakan produk dari Perancis yang sudah ada sejak tahun 1950. Berbekal dengan pemahaman bahwa kulit bayi membutuhkan perawatan khusus, Mustela menghadirkan rangkaian produk perawatan kulit bayi yang spesifik dan merupakan pioner riset terhadap kulit bayi. Pilar-pilar utama Mustela adalah menggunakan bahan alami, kualitas produk,  efikasi yang teruji secara klinis, kenyamanan pemakaian dan keamanan yang terjamin. Pilar-pilar tersebut akhirnya  membuat Mustela menjadi mother & baby skin care nomor 1 di Eropa. Nah sekarang hadir di Yogyakarta, bahagia kan? 😊

Produk-produk Mustela

Untuk Kulit Normal
Salah satu produk Mustela untuk kulit normal. Dokpri


Mustela menghadirkan rangkaian produk berbahan Avocado Perseose, sebuah bahan aktif yang sudah dipatenkan mustela dan digunakan di seluruh produk Mustela BĂŠbĂŠ. Fungsi Avocado Perseose pada kulit normal adalah untuk menjaga kelembaban kulit, menjaga kekayaan sel kulit bayi sejak lahir dan menjaga serta memperkuat lapisan kulit. Ciri-ciri dari rangkaian produk Mustela untuk kulit normal adalah tutupnya berwarna biru. Selain rangkaian bath & cleansing, ada juga rangkaian skincarenya. Kesan pertama saat bayiku mandi menggunakan sabun cair dari Mustela adalah tidak banyak busa yang dihasilkan. Selain itu ada wangi khas dari Mustela dan melembabkan kulit bayi setelah mandi.
Bayiku tidur nyenyak setelah mandi & dipijat menggunakan produk Mustela.dokpri


Untuk Kulit Kering
Gentle soap untuk kulit kering.dokpri


Rangkaian produk Mustela untuk kulit kering gabungan antara Avocado Perseose dengan Dermo-Nutrition Compleks (berbahan madu). Fungsinya untuk mengembalikan kelembutan dan kelembaban kulit bayi. Rangkaian produk ini memiliki tutup berwarna kuning.

Untuk Kulit Atopik
Produk Mustela untuk kulit atopik. Dokpri

Menurut American Academy of Dermatology, 1 dari 5 anak beresiko mengalami dermatitis atopik. Penyebab pasti dari dermatitis atopik sampai saat ini belum diketahui, tetapi dugaan sementara berasal dari berbagai hal seperti faktor keturunan, sistem imun yang rendah, dan iklim serta kelembaban yang rendah. 50-70% bayi yang memiliki jenis kulit dermatitis atopik dapat terkena asma selama masa pertumbuhannya. Oleh karena itu selain diketahui pemicu dan dijauhkan alergennya juga harus ada perawatan kulit yang tepat.
Mustela hadir dengan formula Avocado Perseose dan sunflower oil distillate yang sudah teruji klinis dan aman dalam merawat kulit atopik. Rangkaian untuk kulit atopik ini tutupnya berwarna hijau tosca.

Mustela Maternity yang ada warna merahnya. Dokpri
Selain mempunyai produk untuk bayi & anak lainnya seperti suncare tenyata Mustela juga mengeluarkan produk untuk para ibu setelah melahirkan (Mustela Maternity). Produk tersebut  berupa Mustela strech mark serum dan Mustela Body Firming Gel.
Berfoto di booth Mustela sebelum acara talkshow. Dokpri

Produk-produk Mustela ini sekarang sudah bisa dibeli Mothercare, Guardian,  Viva Generic, Century, Watson, Baby Shop terdekat, orami.com dan JD.ID. Nah gampang banget kan dapetin produk Mustela?
Selengkapnya boleh banget mampir kesini,
Website : mustela.co.id
Instagram : @mustelaindonesia
Facebook : Mustela Indonesia


Foto bareng setelah acara talkshow. Dok : Amalia Sarah

Rabu, 19 Desember 2018

Beberapa Target Blogging di Tahun 2019


Copyright : Archies

Tidak terasa sebentar lagi sudah memasuki tahun 2019. Di penghujung tahun seperti sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk menuliskan beberapa target yang ingin dicapai di tahun 2019.
Sebagai seorang blogger, aku punya beberapa target yang ingin dicapai di tahun 2019.

1. Memiliki Domain TLD
Sebenarnya di tahun 2017 aku pernah membeli domain tetapi asal beli saja tanpa mencari tau lebih dalam. Berbagai permasalahan akhirnya muncul karena ketidaktahuanku, seperti harus membeli domain plus hostingnya. Ditambah lagi kantor yang menjual domain tersebut pelayanannya tidak profesional, salah satunya saat aku sudah membayar tidak ada progress apapun dengan domain yang aku beli selama 1 minggu. Jadi kebayang dong keselnya harus cari tau kesana kesini dan komplain ke kantor tersebut tapi responnya lambat.
Belajar dari kesalahan tersebut, tahun depan aku akan lebih berhati-hati dalam memilih tempat untuk membeli domain.

2. Mengoptimalkan Blog
Jujur saja aku belum terlalu paham tentang utak atik blog. Pada dasarnya aku memang tidak terlalu menyukai utak-atik blog karena makan waktu lama. Tetapi sebagai blogger, mau tidak mau aku harus bisa mengutak-atik blog. Pengalaman memasang google analytics saja sudah cukup makan waktu yang lama dan itupun karena diberi tahu oleh mbak Riana, blogger jogja.
Nah di tahun depan, aku ingin menghabiskan sebagian besar me time-ku untuk mengoptimalkan blog, salah satunya yaitu belajar SEO. Alasannya karena blog merupakan investasi masa depan.

3. Lebih Rajin Menulis Artikel
Target blogging selanjutnya adalah aku ingin lebih rajin lagi dalam menulis artikel di blog daripada tahun 2018 ini. Kan sayang kalau blognya sudah TLD tapi jarang menelurkan sebuah artikel.

4. Kualitas artikel yang diposting di blog harus lebih baik lagi daripada tahun ini. Iya dong semakin sering menulis, semakin banyak belajar memilih kata-kata jadi artikelnya harus semakin baik daripada sekarang.

5. Menyelesaikan Artikel Tentang Pura Pakualaman.
Ya target besarku di tahun depan adalah bisa posting artikel lengkap tentang Pura Pakualaman. Sebenarnya kerangka artikel sudah ada di draft, tetapi aku kesulitan untuk mengumpulkan data-data tentang Pura Pakualaman. Kesulitannya karena waktu yang terbatas untuk mencari data, jadi sampai sekarang masih mengumpulkan data-data dulu.
Alasanku ingin menulis tentang Pura Pakualaman juga karena salah satu nenekku lahir tahun 1939 di wilayah milik kerajaan ini yaitu Kabupaten Adikarta. Tidak etis rasanya jika tidak mengenal sejarah tanah kelahiran nenekku yang merupakan wilayah milik Pura Pakualaman pada masa sebelum kemerdekaan.
Apalagi sekarang aku tergabung dalam komunitas Sesaba Adikarta yang mempunyai tagline menguak potensi sejarah Kulon Progo. Sejarah tentang Kulon Progo sendiri sangat minim, tidak banyak yang tau bahwa sebelum merdeka Kulon Progo merupakan milik dari 2 kerajaan. Hal itu yang mendorongku untuk menulis artikel tentang Pura Pakualaman yang tentunya berhubungan dengan sejarah Kulon Progo.

Beberapa target lain masih ada di dalam listku tetapi tidak berhubungan dengan blogging. Jadi cukup itu saja target bloggingku untuk tahun depan. Kita berencana tapi Tuhan yang menentukan, begitupun dengan target. Yang paling penting adalah terus berjuang untuk mencapai target di tahun depan.

Selasa, 18 Desember 2018

5 Situs Yang Sering Dikunjungi Saat Me Time

Copyright : jurnal web


Waktu Indonesia bagian me time sudah akan dimulai. Beruntung malam ini kondusif, jauh dari polusi suara tetangga ngobrol ngalor ngidul yang kadang membuyarkan konsentrasiku dalam membaca. Waktu me time harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, kadang untuk menulis, kadang juga untuk membaca di sebuah situs online. 
Ada beberapa situs online favorit yang sering aku kunjungi.

1. Kompasiana
Aku merasa menjadi bagian dari blogger kompasiana (kompasianer) sejak tahun 2016. Jadi kebanyakan tulisanku ada di kompasiana. Aku mengunjungi kompasiana selain karena mau upload tulisan, kadang juga karena penasaran ada lomba blog atau event apa saja di kompasiana. Selebihnya membaca tulisan-tulisan headline di kompasiana yang sesuai dengan hatiku saja.
Kalau mbak Yatmi melakukan hal apa saja saat berkunjung ke kompasiana?

2. Mojok
Akhir-akhir ini aku sering sekali mengunjung Mojok. Kenapa? Karena penyanjian tulisan di Mojok sering membuatku tertawa. Banyak hal yang dibahas di Mojok termasuk politik, tapi dengan gaya penulisan yang berbeda berhasil membuatku tertawa.

3. RBTH Indonesia
Bagiku mengunjungi situs online RBTH Indonesia adalah sebuah jendela untuk mengetahui Russia. Banyak konten-konten yang disajikan di RBTH Indonesia termasuk keadaan terkini di Russia, sejarah Russia, dan wisata di Russia. Selain itu akun media sosial RBTH Indonesia yang sering mengklarifikasi hoax yang beredar di Indonesia tentang Russia juga membuatku setia menjadi pembaca situs online satu ini. Apalagi admin media sosial RBTH juga interaktif dengan pengikutnya di media sosial, kurang gimana lagi coba? 😁

4. Historia.id
Situs online yang menyajikan artikel bertema sejarah ini selalu menarik untuk dikunjungi. Artikel-artikelnya berisi sejarah dengan gaya penulisan yang ringan. Jadi orang awam pun bisa memahami apa yang disampaikan oleh artikel tersebut. Apalagi ditambah dengan foto-foto lawas sebagai pendukung artikel, membuat semakin terasa syahdu saat membaca.

5. Ribut Rukun
Pertama kali mengenal situs online ribut rukun ini di tahun 2016. Artikel-artikel yang diterbitkan ribut rukun lebih menarik menurutku karena tidak pakai unsur menye-menye dan judul yang bombastis. Sampai saat ini aku masih sering mengunjungi Ribut Rukun karena senang membaca artikelnya. Apalagi beberapa teman bloggerku juga kontributor Ribut Rukun 😁.

Yuk Mampir ke 5 Situs Belanja Online Favoritku

Berbelanja online. Copyright : kumparan.com


Aku sebenarnya jarang banget belanja produk secara online kecuali kalau barang yang kucari memang tidak dijual di supermarket. Jadi tema kali cukup menguras pikiran karena aku harus mengingat-ingat pengalaman belanja produk secara online. Ada banyak kekhawatiran di benakku ketika akan berbelanja produk secara online. Salah satunya adalah barangnya sesuai atau tidak dengan penjelasan yang diberikan oleh penjual. 

Tetapi dengan seiring berjalannya waktu, aku mulai mempercayai beberapa situs belanja online, sampai akhirnya memiliki 5 situs belanja online favorit.

1. Shopee
Sebenarnya aku mengenal Shopee merupakan sebuah ketidaksengajaan. Kira-kira 2 tahun yang lalu, first importir hand skincare korea langgananku memposting bahwa seluruh dagangannya dipindahkan ke Shopee dan tidak berjualan lagi di facebooknya. Jadi kalau mau order ke dia ya harus download Shopee. 
Keuntungan yang diberikan waktu itu adalah free ongkir dengan minimal pembelian tertentu. Sejak itu aku mulai download Shopee dan kalau belanja skincare tetap ke langgananku via Shopee. Kemudahan metode pembayaran dan tracking barang juga membuatku saat itu percaya bahwa situs belanja online ini serius bertarung dengan situs belanja online lainnya di Indonesia. Keseriusan Shopee bersaing akhirnya dibuktikan dengan berbagai iklan Shopee yang tayang di televisi dengan menggandeng artis dalam & luar negeri.

2. Lazada
Ada sebuah kemudahan di Lazada yang membuatku tergoda untuk mencoba membeli barang melalui Lazada. Sekitar 2 tahun yang lalu aku membeli jam tangan merk geneva dan sebuah hairdryer yang harganya miring di Lazada dengan metode bayar di tempat. Metode bayar di tempat membuatku semakin percaya untuk berbelanja online melalui Lazada.
Terkahir kali ingin berbelanja di Lazada adalah saat berencana membeli smartphone Realme C1 melalui flashsale. Tetapi sayangnya tidak mendapatkan smartphone tersebut karena kalah cepat dengan pembeli lain yang berburu flashsale.

3. Blibli 
Mengenal blibli.com baru di tahun 2017 karena salah satu event di Jogja disponsori oleh blibli.com. Dengan perkembangan yang lumayan cepat seperti menjadikan tiket.com sebagai bagian dari blibli.com berhasil membuatku percaya untuk berbelanja di blibli.com. Aku kan kenal duluannya sama tiket.com sih daripada Blibli 😁

4. Sale Stock
Awal kenal sale stock sebenarnya karena aku pernah ikut rekruitmen customer servis di Sale Stock setelah lulus kuliah. Sejak ikut rekruitment Sale Stock, aku merasa harus download aplikasi Sale Stock. Selain itu juga karena penasaran dengan baju-baju yang dijual di Sale Stock beserta kemudahan yang ditawarkan. Salah satu kemudahan yang ditawarkan adalah adanya deskripsi lengkap mengenai item termasuk ukuran dan warna yang masih ada stoknya.

5. Sociolla
Website belanja komsetik online satu ini berhasil merebut hatiku dengan lengkapnya produk skincare yang dijual dan  berbagai diskon yang diberikan. Selain itu ada "sejenis lelang" skincare pada waktu-waktu tertentu yang sangat menarik untuk diikuti. 

Itu tadi 5 situs belanja online favoritku, kemarin harbolnas banyak flashsale dan diskon yang ditawarkan tapi aku tidak ikut harbolnas. Kalau mbak Sapti kemarin harbolnas borong belanjaan dimana aja?

Minggu, 16 Desember 2018

5 Kebahagiaan Sederhana Seorang Ibu (Introvert)

Mengunjungi tempat bersejarah seperti museum Sandi merupakan sebuah kebahagiaan sederhana versiku. Dokpri

Sebuah kebahagiaan antara satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Apalagi bagi seorang ibu yang introvert sepertiku. Arisan, kumpul keluarga atau acara apapun lah yang menghadirkan banyak orang bukanlah hal yang membahagiakan. Justru malah membuatku sakit kepala.

Aku percaya bahwa bahagia itu diciptakan oleh diri sendiri, sedangkan orang lain atau lingkungan hanyalah faktor pendukung saja. Jadi, kebahagiaan sederhana versiku adalah

1. Bisa memberi makan kucing liar di sekitar rumah.
Aku selalu bahagia melihat kucing liar makan di teras rumahku, karena aku tidak tega melihat mereka mengais sisa makanan di tong sampah. Tetapi karena beberapa hal aku juga tidak bisa mengadopsi mereka, jadi hanya bisa membantu memberi makan saja. Biasanya aku nyetok ikan pindang di kulkas juga cuma buat mereka.

Kalau sedang makan di luar rumah, aku juga tidak malu minta tulang-tulang sisa untuk dibawa pulang demi para kucing liar yang sering numpang makan di teras rumah. Apalagi kalau ada salah satu dari mereka yang numpang tidur di teras, ah rasanya kadar bahagiaku nambah deh.

2. Melihat hal-hal baru yang dilakukan oleh putriku. 
Sebentar lagi putriku akan memasuki usia 2 tahun. Ih lagi gemes-gemesnya ya? Iya dong anak usia segitu kan pasti banyak hal baru yang bisa dilakukan. Akhir-akhir ini putriku sukses membuat aku dan suami tertawa karena tingkahnya ketika bernyanyi. Dengan suara yang masih belum jelas dan dia bernyanyi apa juga kami tidak tahu tapi ekpresinya sangat dalam. Hal ini ditunjukkan dengan gerakan tangan dan mata terpejam saat bernyanyi.

3. Mengunjungi tempat bersejarah. 
Beruntung sekali aku tinggal di DIY dimana banyak terdapat tempat bersejarah. Seolah tidak ada habisnya mengeksplor tempat bersejarah di wilayah DIY. Mulai dari ujung barat sampai timur juga pasti ada aja tempat bersejarahnya.

Tidak jauh dari rumah juga banyak tempat bersejarah. Keluarga kecilku sudah mengunjungi Candi Gampingan yang letaknya tidak ada 3km dari rumah. Rencananya aku juga akan segera mengunjungi sekitar bekas keraton Pleret, karena jarak dari rumah ke Pleret juga tidak ada 5 km.

Mengunjungi tempat-tempat bersejarah bagiku seperti sebuah hembusan nafas dikala suntuk.

4. Mengunjungi Perpustakaan.
Sekali lagi aku beruntung karena tinggal tidak jauh dari Grhatama Pustaka, perpustakaan terbesar milik BPAD DIY. Mengunjungi perpustakaan biasanya aku lakukan bersama suami dan putriku di hari minggu.
 Selain meminjam buku bertema sejarah, kami juga mengajak putri kami mengenal perpustakaan melalui berbagau fasilitas yang disediakan di Grhatama. Biasanya kami mengajak putri tercinta ke ruang bermain anak dan ruang musik.

5. Me Time.
Menjadi seorang ibu itu sebuah lompatan besar, itu yang aku dapatkan dari artikel yang ada di blog milik mbak Hilda. Iya aku setuju sekali, karena awal-awal menjadi seorang ibu aku juga sempat shock. Bagaimana tidak, semua perhatian harus dicurahkan kepada putri kami.

Beruntungnya suami selalu mendampingiku setiap saat jadi aku terhindar dari baby blues setelah melahirkan. Merawat anak juga ada capeknya, tidak semuanya seperti yang terlihat di instagram artis ya. Jadi buatku me time adalah sebuah keharusan, biar apa sih? Ya biar nggak ngerasa jenuh dengan aktivitas momong anak.
Selain itu dengan me time aku bisa memahami diri sendiri, produktif dalam menulis dan introspeksi diri. Tulisan ini juga aku tulis saat me time 😁.

Nah itu tadi 5 kebahagiaan sederhana versiku. Ketika hati bahagia, maka mood jelek pun akan hilang seperti debu yang tertiup angin.
Kalau 5 kebahagiaan sederhanaversi mbak Leni yang juga seorang ibu, kira-kira seperti apa ya?

Sabtu, 15 Desember 2018

5 Skincare Andalan Setelah Menikah

Pelembab Viva, bedak Marcks dan sunblok Skin Aqua. Dokpri

Kalau ngobrolin tentang skincare, aku sering merasa muda lagi 😆. Loh kenapa? Jadi inget jaman masih kuliah dulu, suka banget cobain skincare hasil dari kepoin websitenya Female Daily. Kenal dengan produk-produk skincare dari Filipina, Korea dan Jepang juga hasil berkunjung ke Female Daily. 

Kebutuhan skincare berbanding lurus dengan penghasilan saat itu. Apalagi temanku yang sering jualan skincare korea sudah memutuskan untuk berhenti jualan, nah semakin susah juga dapat sampel skincare korea yang harganya miring. Semakin menjelang lulus kuliah, semakin sering mencari skincare substitusi yang harganya lebih miring dan mudah didapatkan. Alasannya adalah budget, ya ketika memutuskan resign dari pekerjaan tetap, otomatis budget untuk skincare harus ditekan termasuk budget untuk facial ke klinik kecantikan 😂. 

Awal-awal menikah, aku masih memakai skincare komplit dari dokter Wisnu, Prambanan. Tetapi setelah mengetahui bahwa aku hamil, skincare kelas berat seperti itu aku stop. Kemudian aku memutuskan kembali ke skincare buatan dalam negeri yang harganya terjangkau dan aman untuk ibu hamil. Kebiasaan menggunakan skincare buatan dalam negeri ternyata berlanjut hingga sekarang.

Dibawah ini adalah penampakan-penampakan skincare yang aku gunakan saat ini. 
Facial foam Larissa dan Sabun Kojie San. Dokpri


1. Pembersih wajah & body butter dari Larissa
Untuk pembersih wajah, aku tetap kembali ke Larissa Facial Foam tea tree. Setelah menikah, facial foam yang aku gunakan juga digunakan oleh suami padahal jenis kulit kami berbeda. Suami memiliki jenis kulit wajah berminyak, sedangkan aku jenis kulit wajahnya kombinasi. Setelah tergoda diskon disana sini ternyata yang cocok di kantong dan bisa dipakai berdua hanya Larissa Facial Foam Tea Tree ini.
Body butter Larissa. Dokpri

Kalau body butter,aku selalu percayakan ke Larissa juga karena body butternya bisa melembabkan kulit kering di tumitku tanpa waktu lama. Wangi body butter Larissa juga seperti adonan kue jadi sukses bikin lapar. 😂

2. Kojie San Soap
Sabun dari Filipina ini memang luar biasa, beruntungnya saat ini produk-produk Kojie San sudah diimpor oleh PT IUCP jadi mudah didapatkan di supermarket terdekat. Selain itu harganya juga lebih terjangkau. Aku biasanya pakai sabun Kojie San saat mandi sore saja karena sabun ini mengandung kojic acid, yang akan mengangkat sel kulit mati. Cara pakainya busa didiamkan di kulit selama 3 menit lalu dibilas. 


Pelembab, bedak Marcks dan Sunblok Skin Aqua. Dokpri

3. Produk Viva : Pelembab dan Hand Body Lotion
Untuk pelembab, aku pakai pelembab yang dikeluarkan oleh Viva Kosmetik. Alasannya karena harganya terjangkau dan mudah didapatkan. Selain itu, terkstur pelembabnya mudah meresap di kulit wajah dan tidak lengket sehingga kulit wajah menjadi lembab. Tetapi bulan lalu aku tergoda membeli pelembab keluaran Brun Brun Paris. Teksturnya lebih kental daripada pelembab Viva tapi aku tidak merasakan kelembaban di kulit wajah setelah memakainya.
Handbody Lotion Viva andalanku dan suami karena isinya banyak dan harganya terjangkau. Dokpri

Nah kalau hand body lotion aku pilih Viva karena harganya terjangkau dan kemasannya besar. Buat dipakai berdua dengan suami kan hemat banget nih lotion. Tetapi untuk mendapatkannya di Jogja ini harus ke supermarket besar sekelas Mirota atau Ramai.

4. Bedak Tabur Marcks

Sejak pertama kali kenal klinik kecantikan, dokternya menyarankanku untuk menggunakan bedak tabur saja. Sejak itu pula aku menggunakan bedak tabur, tetapi karena bedak tabur Marcks jauh lebih murah dari klinik kecantikan tersebut maka aku memutuskan untuk membeli Marcks saja. Dengan kemasan yang tidak mudah pecah, isinya banyak dan mudah diblend dengan bb cream membuat aku tetap setia sama bedak tabur Marcks. Awal-awal aku kenal bedak Marcks harganya masih sekitar 8000 rupiah, saat ini sudah menyentuh harga 15.000 rupiah. 

5. Sunblok Skin Aqua
Nah kesetiaanku sama skin aqua nggak perlu diragukan lagi deh 😂. Soalnya selain karena harganya terjangkau, tekstur skin aqua itu tidak pekat seperti sunblok yang lain. Selain itu tekstur skin aqua ringan mirip pelembab (karena emang ada pelembabnya sih), gampang diserap kulit wajah, gampang di blend dengan bedak, dan nggak bikin komedoan walaupun pakai yang spf 50. 

Eh tau-tau udah 5 aja nih produk skincare yang aku pakai. Gimana dengan pensil alis dan lisptik? Ah kalau aku sih nggak pakai pensil alis jadi nggak ada rekomendasi pensil alis. Kalau lipstik sih aku tidak terpaku dengan satu merk, pokoknya asal punya lipstik saja sudah cukup. Saat ini aku sudah memiliki seorang putri kecil yang cantik, jadi masih bisa pakai skincare secara rutin itu sudah sangat bersyukur. Apalagi kalau dapat endorse skincare seperti mbak Vika, ah betapa bahagiaaanya diriku.  😍

Para Kucing Ibu yang (Mungkin) Sudah di Surga

Salah satu kucing ibu yang meninggal karena tulang tengkoraknya bonyok.  Dokpri Hidupku rasanya tidak pernah jauh dari hewan berbul...